"Tanpamu,
aku sebatas rindu yang tak pernah sampai ke peraduannya." - Fanny Salma (20yo)

Sabtu, 23 Juli 2016

Cerbung [FF] - When You Hold Me part 17

Tittle: When You Hold Me
Author: Fanny Salma

Selamat malam minggu, saya post WYHM part 17 hehe semoga tidak mengecewakan lagi. Buat yang kurang suka percintaan mohon maaf karena dari awal WYHM memang sudah saya konsep begini :3

Hope you like it...


17


“Saya panggil kamu ke sini karena saya ingin meminta kamu mengajari Alvin,” kata Bu Maryam membuat Ify mendengus tak kentara.
“Bukannya saya nggak mau, Bu. Tapi, saya nggak sanggup kalau harus mengajari dua orang sekaligus. Saya kan juga butuh belajar sendiri, Bu,” balas Ify setenang mungkin.
Bu Maryam mengangguk-angguk, “Saya sudah menduga. Tapi, saya punya penawaran bagus untuk kamu kalau kamu bersedia.”
“Penawaran?”
“Beasiswa kuliah di Aussie setelah lulus dari sini. Saya akan merekomendasikan nama kamu dan akan saya pastikan kamu lolos jika kamu bersedia mengajari Alvin. Hanya sampai kenaikan kelas. Setimpal kan?” jelas Bu Maryam.
Kali ini Ify terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Semua orang pasti menunggu momentum seperti ini, tidak mungkin ada yang mau menolak kesempatan emas karena tak akan datang dua kali. Dengan itu pula ia bisa membuat bangga kedua orang tuanya. Tapi di sisi lain, Ify masih memikirkan nasibnya sendiri jika mengajari Alvin dan Rio yang berarti harus bisa mengatur waktu dengan baik.
“Kamu juga sudah boleh menghentikan belajarmu dengan Rio karena nilainya sudah mulai mencapai KKM,” ujar Bu Maryam.
Ify menggeleng, “Kalau saya hentikan, tidak ada jaminan nilai Rio akan stabil.”
“Kamu benar. Keputusan ada di tangan kamu, Ify.”
Kalau tahu wanita ini memanggilnya hanya untuk urusan seperti ini, dia tidak akan melangkahkan kaki kemari. Sekali lagi, penawaran Bu Maryam sangat menggiurkan. Ify berpikir keras untuk memutuskan.
Sampai pada akhinya keputusannya sudah final.
“Saya bersedia.”
***
Mata Alvin membulat sempurna saat tahu-tahu dia dipanggil ke ruangan Bu Maryam. Ya, dia sudah menduga ini pasti berhubungan dengan nilai-nilainya yang beberapa hari lalu membuat wanita itu kelimpungan. Hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, Ify menolak dan yang kedua sebaliknya.
Alvin berjalan memperhitungkan kemungkinan yang diambil Ify. Jika pertama, maka ia aman. Tapi, jika Ify justru bersedia itu artinya... argh.
Dengan hati-hati Alvin membuka pintu ruangan setelah mengetoknya beberapa kali. Pemuda itu melihat Ify masih berada di sana, terdiam menatapi ujung sepatunya yang mungkin tampak menarik untuk saat ini. Dia lantas berderap menghampiri Bu Maryam yang memasang wajah sumringah. Apa saja yang telah mereka bicarakan?
“Duduk, Vin,” kata Bu Maryam terdengar ramah.
Alvin mengernyit karena merasa aneh. Sebelumnya, wanita di hadapannya ini tak pernah royal padanya.
“Jadi begini, Ify...”
Alvin ikut menatap Ify saat Bu Maryam mengalihkan pandangan pada gadis di sebelahnya. Ify lalu mendongak, melepaskan pandangannya dari sepasang sepatu yang tampak usang.
“Bersedia mengajari kamu sampai ujian kenaikan kelas,” lanjut Bu Maryam.
Tiba-tiba saja kepala Alvin terasa pening. Apa yang dirasakan Rio ya saat pertama kali diminta belajar dengan gadis di sebelahnya? Alvin pun tak tahu harus bereaksi seperti apa. Meski sudah menganggap Ify sebagai sahabat, tapi nyatanya sulit karena ia baru memulai.
“Untuk itu kamu tidak bisa menolak lagi, Alvin. Saya berbuat seperti ini karena tak ingin sekolahmu semakin memprihatinkan. Urusan jadwal belajar, saya serahkan pada Ify,” kata Bu Maryam karena Alvin masih tak bereaksi.
Karena sudah tak ijinkan memprotes apapun, Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ify menatap pemuda itu dengan perasaan bersalah dan dibalas dengan wajah datar. Sepertinya Ify tahu bahwa Alvin tidak suka.
“Kalau begitu saya permisi, Bu,” pamit Alvin.
“Saya juga,” timpal Ify.
Bu Maryam menganggukkan kepala dan mempersilakan dua anak didiknya itu meninggalkan ruang guru. Entah mengapa, wanita itu selalu percaya bahwa Ify dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Begitu keluar dari ruangan tersebut, Alvin duduk di kursi yang sengaja disediakan dan diikuti Ify. Beberapa saat atmospher diantara mereka masih terasa... entahlah. Mereka sendiri bingung harus menjabarkan seperti apa.
“Sori, gue nggak maksud bikin lo nggak seneng,” ujar Ify membuka obrolan.
Masih ingatkah bahwa Ify memang sedikit takut pada Alvin?
Terdengar helaan nafas dari pemuda itu, “Nggak pa-pa. Itu hak lo juga mau nolak atau nerima. Bu Maryam nawarin apa sih?”
Ify terperangah. Ternyata Alvin tahu soal penawaran tersebut.
“Ngg...”
Gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, ia memilih mengatupkan bibir. Beruntung Alvin bukanlah orang yang bersikeras menyuruh seseorang menjawab pertanyaannya.
“Lo harus betah ya sama sikap gue,” ujar Alvin memecah kesenyapan.
“Pasti. Lo juga harus betah kalo gue nggak sengaja ngomel,” balas Ify nyengir.
Ia tahu bahwa Alvin tak seburuk yang ia kira. Buktinya saat ini Alvin tertawa kecil mendengar ocehan Ify.
***
Keputusan final. Demi neptunus, Agni tidak akan menunda-nunda lagi untuk bicara dengan Sion dan membuat pemuda itu semakin berasumsi. Kini, Agni menunggu pemuda itu di lorong yang menghubungkan mereka ke lapangan indoor. Tentunya tidak akan ada yang lewat sini karena selain lapangan indoor jarang digunakan selain untuk latihan, ini adalah waktunya anak-anak belajar di dalam kelas. Hanya kelas Agni yang bebas karena tidak ada guru mengajar.
Gadis itu membenarkan ikatan kuncir kudanya lalu bersandar di tembok. Semalaman dia sudah berusaha merangkai kata-kata untuk menjelaskan pada Sion. Akan tetapi, semua yang dirangkainya mendadak menguap begitu saja. Agni menyerah. Dia tak punya waktu lagi untuk merangkai kata kembali karena siluet Sion mulai terlihat.
Semakin dekat. Agni sudah dapat melihat Sion secara utuh. Pemuda itu berhenti tepat di hadapannya dengan tangan yang tersembunyi di balik saku.
“Mau ngomong apa?” tanya Sion.
Agni lantas merubah posisinya dan membuat Sion mau tak mau ikut bergeser dari tempatnya semula. Suasana hening beberapa saat, hanya terdengar nafas Agni yang memburu karena bingung harus memulai dari mana. Sion, pemuda itu tetap setia menantikan gadis yang mungkin masih ada di hatinya itu bicara.
“Gue minta maaf sama lo untuk semua hal yang pernah terjadi diantara kita.”
Akhirnya kalimat itu meluncur secara lugas dari bibir Agni. Rahang Sion mengeras, sudah ia duga Agni akan membahas ini.
“Perasaan lo ke gue benar-benar udah nggak tersisa sedikitpun?” tanya Sion terdengar miris.
Rasa bersalah itu kembali menancap di hati Agni. Mungkin, sampai kapanpun dan sebanyak apapun maaf darinya masih akan tetap meninggalkan perasaan bersalah ini.
Baru membuka mulut saat hendak bicara, tiba-tiba Sion mengangkat tangannya sebagai kode bahwa Agni tak perlu melanjutkan. Bibir Agni lantas kembali terkatup rapat.
“Nggak usah dijawab, gue udah tahu jawabannya,” interupsi Sion.
“Sion...”
“Agni, gue mengira telah berhasil meraih lo. Tapi, setelah lo patahin hati gue, dunia bikin sadar kalau selama ini gue cuma berhasil meraih bayangan lo. Sama seperti bayangan, akan ada saat lo pergi meninggalkan gue,” celoteh Sion terdengar menyakitkan.
“Dengan ini, gue melepas lo sepenuhnya,” imbuh Sion.
Beberapa saat mereka larut dalam hening. Agni masih berusaha mencerna ucapan Sion yang baru saja didengarnya disaat Sion berusaha menata hatinya kembali, tanpa Agni di dalamnya.
“Lo... serius?” tanya Agni lirih.
Sion mengangguk.
“Untuk apa gue mempertahankan orang yang nggak ingin dipertahankan?”
“Gue bener-bener minta maaf. Gue yakin lo akan dapat cewek yang lebih baik dari gue dan mencintai lo apa adanya,” kata Agni yang dibalas Sion dengan anggukan ringan.
Bagi Sion, ucapan itu hanyalah bualan belaka. Tak ada isinya. Kosong. Sudah berapa gadis yang mengatakan kalimat demikian padanya? Tak apa, dia sudah ikhlas melepas Agni.
“Lo juga. Semoga Cakka tahu kalau lo cinta sama dia,” balas Sion tak mengutarakan isi pikirannya.
Dug.
Keduanya sama-sama menoleh saat mendengar sesuatu terjatuh ke lantai. Cakka. Dia berdiri dengan wajah terkejut. Detik berikutnya Agni berubah panik, dia yakin bahwa Cakka mendengar apa yang diutarakan Sion barusan.
“Well, gue pergi dulu,” pamit Sion memberi celah supaya mereka dapat mengobrol berdua saja.
“Jangan jadi pecundang kayak gue, Ag,” pesan Sion lalu melangkah pergi.
Tinggalah Agni dan Cakka dalam kesunyian.
***
Semenjak rentetan kejadian yang menimpa The Wanted berakhir, sekolah jadi lebih indah bagi Shilla. Dia sudah mulai bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Tak hanya itu, dia kembali dekat dengan Gabriel seperti dulu. Semuanya tampak lebih indah meski beberapa kali Shilla sempat memergoki Gabriel melamun. Entah, Shilla tak tahu apa yang dilamunkan pemuda itu.
Shilla juga sudah tak peduli apakah The Wanted masih ada atau tidak. Bahkan, dia mulai menikmati saat Sivia menyebut mereka ‘Tim Menolak Sivia Bahagia’. Terdengar lucu dan tak ada yang pernah menyangkal. Sebutan itu jauh lebih menarik timbang The Wanted.
Sekarang, dia berada di kelas bersama Rio dan Gabriel. Sejak kejadian Ify bertemu dengan Ray, Rio jadi lebih pendiam. Dan itu diartikan Shilla sebagai rasa cemburu. Diam-diam Shilla tersenyum karena menyadari bahwa bukan hanya dia yang beranjak dewasa, makhluk sekaku Rio pun bisa merasakan jatuh cinta. Pernah Shilla membicarakan ini pada Sivia dan gadis cablak itu setuju dengannya.
“Kalian diem mulu,” cetus Shilla.
Kelas mereka memang sedang jam kosong. Alvin belum kembali sejak dipanggil Bu Maryam.
“Akhir-akhir ini lo kelihatan lebih ceria,” kata Gabriel.
Dengan senang hati Shilla mengangguk semangat, “Gue seneng banget sekarang jadi banyak temen.”
“Bagus dong ya?” kekeh Gabriel.
“Nah, Rio. Lo kenapa? Mikirin Ify? Apa mikirin kapten basket SMA Global?” ceplos Shilla membuat Rio sedikit kaget.
“Kok jadi gue?”
Shilla terkekeh, “Ternyata lucu juga ya lihat lo jatuh cinta. Sama Ify lagi. Udah sejauh mana sih kalian?”
“Siapa yang jatuh cinta?” tanya Rio pura-pura bingung.
“Nggak perlu ngelak gitu, Yo. Udah ketangkep basah sama Shilla tuh,” nimbrung Gabriel seraya terkikik geli.
Rio mendengus. Menyebalkan. Gabriel selalu saja kumat kalau membahas Rio dan Ify. Dan sekarang, Shilla jadi ikut-ikutan.
“Gue nggak mikirin apa-apa kok,” kilah Rio.
“Masih nyangkal juga? Sejak mata lo nyorot Ify sama Ray waktu itu, lo jadi nggak fokus. Apa lagi kalo bukan cemburu?” tembak Shilla.
Detik berikutnya Rio memijat pelipisnya. Iya, dia mengaku bahwa pikirannya jadi runyam karena bertanya-tanya siapa laki-laki bernama Ray itu. Maksudnya, apa hubungannya dengan Ify? Mengapa nada bicara Ify tampak berbeda?
Rio melirik Shilla dan Gabriel yang sedang mengerling jahil. Ugh, mereka kompak sekali meledeknya. Tapi, Rio tetap bungkam.
***
Sejak Alvin mengantarkan Sivia pulang, mereka jadi lebih dekat. Bahkan saat ini sudah masuk ke tahap chat—meski tidak rutin. Alvin memberikan warna baru dalam hidup Sivia. Yang awalnya dipenuhi dengan warna-warna menantang, kini berubah jadi pink. Full pink. Ify sendiri sampai heran menyaksikan Sivia senyum-senyum tidak jelas setiap pelajaran.
Ah, Ify jadi teringat mengenai chat Ray semalam. Setelah beberapa hari berlalu sejak pertemuan mereka, tiba-tiba tadi malam pemuda itu membuatnya shocked karena menambahkan akun line miliknya. Lebih terkejut lagi saat Ray menyapanya melalui chat—dan belum dibalas hingga saat ini. Ify memang tak pernah mem-protect line-nya karena takut ada kepentingan mendadak. Dampaknya baru ia rasakan sekarang.
“Via,” panggil Ify.
Sivia yang awalnya fokus pada ponsel lantas menoleh, “Apaan? Kangen?”
Ify melengos. “Bukan idih! Gue mau cerita sama lo,” balasnya.
Mendengar bahwa sahabatnya ini akan cerita, Sivia langsung menyimpan ponselnya dan menatap Ify khidmat. Bukan apa-apa, seorang Ify jika mengatakan hal demikian maka pasti itu sesuatu yang pribadi. Sungguh Sivia merasa beruntung menjadi seseorang yang bisa dipercaya oleh Ify.
“Soal?” tanya Sivia.
Sivia mulai menebak-nebak apa yang ingin diceritakan Ify. Apa tentang Rio?
“Soal... Ray,” jawab Ify sedikit ragu.
“Ray?” tanya Sivia memastikan.
Dan Ify langsung mengangguk mantap.
“Kenapa sama Ray?” tanya Sivia—lagi.
“Semalem dia tiba-tiba chat gue. Sampai sekarang belum gue bales,” kata Ify membuat Sivia mengernyit.
Ingatan gadis itu berputar ke masa silam, saat mereka masih mengenakan seragam putih biru. Sivia ingat saat tiba-tiba Ify menceritakan bahwa dia sedang dekat dengan Ray, kapten basket SMP mereka. Mereka lalu menjalin hubungan sampai akhirnya harus putus karena sesuatu yang Sivia mengerti.
Sejak saat itu, Ify memutuskan untuk tidak pacaran lagi. Dia bilang belum siap jika kejadian yang sama harus terulang. Tapi, Sivia tahu betul apa yang dirasakan sahabatnya.
“Lo masih belum bisa move on?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tepat sasaran.
“Lo nggak bisa gini terus, Fy,” kata Sivia pelan.
Ify mengangguk. Ia pun tahu, tapi rasanya benar-benar sulit karena yang harus dilupakannya adalah cinta pertama. Ya, Ray cinta pertamanya yang sampai kapanpun akan selalu seperti itu.
“Rasanya gue benci sama diri gue sendiri karena nggak sanggup melupakan, Via,” ujar Ify lirih mengingat sosok gadis yang telah menggantikan posisinya.
Hanya bersama Sivia, Ify bebas mengutarakan semuanya. Tanpa ada satu bagianpun yang ditutup-tutupi. Sivia mengerti dan memahami Ify sama seperti Ify memahami Sivia. Mereka layaknya pantai yang tak pernah meninggalkan lautan, langit yang tak pernah meninggalkan bumi, atau apapun yang dapat mengibaratkan betapa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka satu. Sepaket. Tak terpisahkan.
Ray. Nama itu pernah membuat Sivia belingsatan karena ingin menghajarnya, setidaknya supaya ia tahu sakit yang dirasakan Ify saat itu.
“Lo butuh orang yang bisa bantu lo melupakan dia, Fy. Lo harus coba membuka diri. Mungkin ada orang yang saat ini diam-diam mikirin elo,” ujar Sivia dengan lembut.
Sangat berbeda dengan sosok Sivia  yang cablak dan nyolot. Dan entah mengapa, ucapan itu merasuki Ify.
***
Cakka dan Agni masih betah dalam suasana hening dan canggung seperti ini. Agni, ia masih bingung bagaimana menjabarkan isi hatinya pada pemuda itu. Cakka sendiri masih menyesuaikan diri. Dia melirik Agni yang sedang memilin ujung kemejanya. Sejak pertama kali melihatnya, Cakka dibuat kagum dengan penampilan Agni yang terkesan tomboy. Rambutnya selalu dikuncir kuda, ujung kemejanya selalu keluar, terkadang lengan kemeja itu sengaja dilipat—hingga meninggalkan bekas—disaat benar-benar gerah, dan tak ada riasan apapun di wajahnya. Bahkan, Agni tak pernah mengenakan bedak.
Satu yang tak pernah lupa dibawa gadis itu adalah bedak bayi. Bukan untuk dioleskan di wajah, melainkan di seragamnya. Katanya supaya kerigatnya terserap dengan baik. Cakka baru tahu ada teori seperti itu—mungkin juga Agni mengasal.
Entah sejak kapan Cakka mengingat itu semua dengan baik. Semua tentang Agni.
“Yang dibilang cowok tadi bener?” tanya Cakka memecah keheningan.
Cowok tadi yang dimaksud Cakka adalah Sion. Ia memang beberapa kali berpapasan dengan pemuda itu tapi Cakka tak tahu namanya.
Tampak Agni sedang gusar, kepalanya kosong seolah tak ada stok huruf-huruf di sana. Apalagi saat ini Cakka menghujaminya dengan tatapan yang entahlah. Agni menunduk, tapi dia bisa merasakan bahwa Cakka sedang memperhatikannya.
“Gue... bisa jelasin...”
Ucapan itu terdengar sangat pelan dan sarat kepanikan.
“Gue cuma nanya itu bener atau nggak kok, bukan minta penjelasan,” balas Cakka dengan lembut.
Tapi sepertinya tanpa jawaban dari Agni pun Cakka sudah tahu. Toh akhirnya Cakka tetap menunggu Agni sendiri yang menjawabnya supaya ia tak perlu berasumsi. Dan di detik selanjutnya, gadis itu menganggukkan kepalanya tepat saat bahunya bergerak turun.
Tak ada reaksi apa-apa dari Cakka. Agni pun mendongak, berharap Cakka mau buka suara sedikit saja atas jawabannya. Namun pemuda itu masih terdiam. Agni lantas merasa harapannya pupus sudah. Ia tak tahu bahwa sekarang Cakka sedang menyelami perasaannya sendiri.
Cakka mulai angkat bicara lagi, “Jadi, lo jatuh cinta sama gue?”
“Iya,” sahut Agni lemah.
“Gue juga.”
Agni menoleh, menatap Cakka yang sedang tersenyum penuh arti dengan tatapan bingung. Apa tadi katanya?
***
Tim menolak Sivia bahagia berkumpul di kantin. Ada yang aneh dengan gelagat Cakka dan Agni, mereka berdua terlihat berbeda, seperti sengaja menghindari kontak mata satu sama lain.
“Nasi goreng sama sop buah dong! Gratis ya!” seru Sivia heboh seperti biasa.
Gabriel memutar bola matanya, “Dasar gratisan.”
“Yee sekali-kali lo jadi orang baik dong. Nggak akan rugi kok beramal sama kaum lemah lembut kayak gue. Kalau nggak percaya, tanya aja ke malaikat pencatat amal,” balas Sivia membuat yang lain terkikik geli.
“Lo lemah lembut dari segi mana?” timpal Alvin sangsi.
“Dari segi...tiga bermuda,” jawab Sivia mantap.
Tawa mereka pecah begitu mendengar jawaban receh tersebut. Sivia ini entah mengapa tak pernah kehabisan kata-kata ajaib yang bisa meledakkan tawa.
“Jual aja dia ke pasar loak,” seloroh Ify.
Sivia lantas memasang wajah cemberut.
“Kalo gue dijual, ntar lo kangen gue gimana? Gue bukannya sok sih, tapi emang sadar diri kalau gue ini super ngangenin.”
“Gampang. Kalo kangen tinggal gue beli,” sahut Ify asal.
“Oh iya juga ya?” gumam Sivia sangat polos.
Tiba-tiba Agni melemparkan sedotan ke arah gadis tersebut. Sivia mendengus, selalu saja dia yang menjadi korban kesadisan orang-orang. Bukan salahnya kan kalau dia menggemaskan?
“Jadi pesen nggak nih?” tanya Gabriel merasa diabaikan.
“Jadi! Nasgor dan sop buah gratis!” sahut Sivia semangat 45.
“Ya, selain nasgor dan sop buah gratis apa lagi?” balas Gabriel.
“Ah lo memang manusia terbaik sedunia, kalo lagi baikin gue,” celoteh Sivia.
Gabriel mencibir, tapi tak urung tersenyum juga. Saat-saat seperti ini adalah hal yang selalu dirindukan olehnya. Dia bisa berinteraksi dengan Sivia meski harus nyolot-nyolotan sampai akhirnya Gabriel yang mengalah. Akan tetapi, ada sesuatu yang mengusiknya saat ini.
“Samain aja kayak lo, Yel,” ujar Cakka.
“Gue juga,” sambung yang lain.
Gabriel mengangguk-angguk lalu menuju stand. Jika dia yang memesan, tak akan ada kejadian mengantre. Dia hanya perlu menyebutkan pesanan dan kemudian kembali duduk manis. Ya, itu enaknya jadi anak pemilik yayasan.
Dalam diam, Rio melirik Ify yang asik dengan novelnya. Ekspresi itu selalu membuat Rio terhanyut dalam ketenangan. Pancaran wajah Ify seperti obat dari segala masalah. Sejenak, beban yang dibawanya melayang-layang di udara. Untuk itu Rio tak pernah mengabaikan kesempatan seperti ini. Kesempatan menikmati wajah Ify dalam jarak yang cukup dekat.
Disaat yang lainnya sibuk menimpali cablakan Sivia, Ify tetap tenang membaca novelnya seakan ia tak terusik sama sekali dengan kebisingan ini. Dan Rio, ia pun masih fokus pada gadis itu.
“Ehem,” dehem Shilla.
“Ehem ehem kok tenggorokan gue seret ya,” sambung Sivia.
“Wah nggak ada yang peduli tuh, Siv,” sahut Agni menyebalkan.
Sivia tampak tak peduli dan masih terus berdehem, begitu pula Shilla. Alvin, Cakka serta Gabriel yang baru kembali pun lantas mengerti mengapa para gadis ini semakin berisik.
“Pesona Ify kayak apa sih sampe bisa bawa orang terbang ke dunia lain?” seloroh Cakka yang disambut tawa mereka.
Mendengar namanya disebut-sebut, Ify mendongak lalu menatap bingung ke arah sahabat-sahabatnya. Gadis itu mengernyit heran.
“Apaan bawa-bawa gue?” tanya Ify dengan satu alis terangkat.
“Peka dong, Fy. Ada yang lihatin lo daritadi tahu,” ceplos Agni.
Dan detik itu Rio tersadar bahwa mereka membicarakan dirinya.
“Harus dipancing dulu supaya sadar rupanya,” celetuk Alvin.
Ify sontak melirik ke arah Rio. Satu-satunya orang yang tidak bersuara sedari tadi. Tampak pemuda itu sedang meringis, seperti tertangkap basah telah memperhatikannya. Tiba-tiba Ify teringat ucapan Sivia. Dia butuh orang yang bisa membuatnya melupakan Ray.
***
“Rio, mulai sekarang jadwal belajar kita cuma hari jum’at ya,” ujar Ify.
Rio yang tengah mengerjakan soal dari Ify lantas menoleh dengan wajah heran.
“Nilai-nilai lo udah bagus. Cuman perlu ditingkatkan lagi aja,” imbuh gadis itu.
Saat ini mereka melakukan rutinitas seperti biasa. Belajar. Berhubung sepulang sekolah tadi Rio harus ke kantor, maka ia baru datang sore ini. Tampak pemuda itu mengetuk-ngetukan pulpennya. Yang dikatakan gadis itu benar, nilai-nilainya sudah terangkat dan terselamatkan. Tapi, mengapa rasanya ia tak rela?
Kali ini Rio mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya. Memang harusnya begitu kan? Dia harus menerima keputusan Ify karena gadis itu sudah mengorbankan waktu yang dimilikinya. Wajar saja. Ify juga perlu waktu untuk meningkatkan nilainya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Ify menyala. Rio sedikit melirik ke arah layar dan tercenung begitu nama ‘Ray’ memenuhi layar ponsel tersebut. Telepon melalui aplikasi line. Tampaknya Ify enggan sehingga memilih mengabaikan.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Rio skeptis.
Ify, dia tersenyum hambar lalu menggelengkan  kepala.
“Nggak penting. Udah kelar tugasnya?” balas gadis itu.
“Sedikit lagi,” sahut Rio.
Keadaan kembali hening disertai ponsel Ify yang masih menyala. Sepertinya pemuda bernama Ray itu masih keukeuh pada pendiriannya. Rio tak ambil pusing, ia segera menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian, Rio mengangsurkan bukunya pada Ify untuk dikoreksi.
“Ponsel lo belum mati juga. Kayaknya penting tuh,” kata Rio menunjuk ponselnya.
Ify yang sedang meneliti pekerjaan Rio lantas mengalihkan pandangan. Benar saja, benda pipih itu masih menyala dan menampilkan kontak Ray.
“Angkat,” ujar Rio.
Menyerah. Gadis itu meraih ponselnya lalu menerima panggilan Ray via line. Terdengar helaan nafas di seberang sana.
“Mau apa?” tanya Ify terdengar sangat dingin.
“Gue di luar rumah lo.”
“Hah?”
Ify buru-buru menengok dari jendela. Benar. Ada Ray yang sedang bersandar di motornya dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
“Ngapain ke sini?”
“Please, ada yang perlu kita omongin.”
“Gue nggak akan keluar. Mending lo pulang aja,” ketus Ify lalu mematikan ponselnya secara total.
Rio mengerjap mencuri dengar pembicaraan Ify dengan Ray. Pemuda itu mulai bertanya-tanya siapakah Ray sebenarnya. Ify yang sadar bahwa sedari tadi diperhatikan oleh Rio mulai kikuk.
“Sorry,” ujar Ify lalu fokus pada buku Rio.
Dalam hati Ify bersyukur karena Ozy sedang pergi bersama teman-temannya. Kalau dia tahu ada Ray di depan rumah mereka, pasti laki-laki kecil itu akan berubah jadi sok jagoan.
***
Semuanya sudah terbongkar. Perasaan Agni yang dahulu hanya bisa disimpannya rapat-rapat sudah diketahui oleh Cakka. Lebih menyenangkan lagi saat ia tahu bahwa Cakka memiliki perasaan yang sama padanya. Cakka tahu kalau Agni menyayanginya, Agni pun tahu bahwa Cakka juga menyayanginya. Hanya begitu. Tak ada penegasan hubungan seperti apa yang akan mereka lalui.
Paham akan kenyataan tersebut, Agni tidak tahu harus senang atau sedih. Senang karena cintanya berbalas. Sedih karena ia tak bisa mengklaim Cakka sebagai miliknya. Tapi untuk saat ini Agni memilih memprioritaskan perasaan bahagianya.
Di lain sisi, Gabriel semakin terperosok dalam kisah cintanya sendiri. Entah mengapa ia membenci kedekatan Sivia dan Alvin yang akhir-akhir ini semakin menjadi. Berhubung sepupu Sivia dan Kak Deva bersahabat, mereka jadi sering bersama. Gabriel benci pemandangan saat posisinya terasa digantikan.
“Tiba-tiba kangen jalan bareng Sivia, Ify sama Rio,” gumam Gabriel.
Malam ini dia menikmati sapuan angin di kulitnya, membiarkan dirinya sendirian tenggelam bersama malam, lalu mengadu pada bulan purnama. Sendirian. Setelah beberapa hari dia menemukan sahabat-sahabat yang seru, akhirnya Gabriel rindu kesendiriannya. Waktu yang benar-benar hanya untuknya.
Jika Sivia sekarang semakin dekat dengan Alvin, Gabriel justru kembali dekat dengan Shilla. Sumpah, ini lucu. Dia pikir Alvin mencintai Shilla. Bukan cinta sahabat untuk sahabatnya, melainkan lebih dari itu. Selama ini, Gabriel mengira Alvin memandang Shilla sebagai seorang laki-laki yang memandang cinta sejatinya. Apa dia yang terlalu berlebihan dalam berasumsi?
“Gabriel...”
Pemuda itu terkesiap saat tahu-tahu papanya sudah duduk di sampingnya.
“Papa udah pulang?” tanya Gabriel.
Sejurus kemudian ia merasa bodoh karena melontarkan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Papanya berada di sampingnya saat ini, itu berarti papanya sudah pulang.
“Gimana sekolahmu?”
Gabriel menarik nafas lalu menghembuskannya, “Sangat baik. Pasti udah banyak laporan yang Papa terima kan?”
Pria yang rambutnya sudah sedikit memutih itu menganggukkan kepala. Dia memang selalu menerima laporan apapun berkenaan dengan putranya ini. Gabriel adalah anak kedua yang terpaksa menjadi anak sulung karena anak pertama Stevent—Papa Gabriel—meninggal ketika Gabriel belum lahir. Sementara itu, ia masih memiliki putri kecil yang saat ini duduk di bangku SD.
“Papa dengar sekarang The Wanted bubar,” aku papanya.
“Bukan bubar. Cuman ada formasi baru aja, sekarang namanya jadi tim menolak Sivia bahagia,” ralat Gabriel membuat papanya mengernyit.
“Tim... menolak Sivia bahagia?”
Gabriel mengangguk sambil tersenyum geli menyaksikan ekspresi bingung papanya. Tentu saja, memangnya siapa yang mau membuat tim seaneh itu? Hanya Sivia.
“Kedengarannya seru,” komentar papanya.
Itu artinya Gabriel harus mendongengkan cerita untuk papanya. Dan itulah yang terjadi. Gabriel mulai menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa The Wanted sampai mendapat sahabat baru bernama Sivia, Ify dan Agni. Terkadang papanya tersenyum geli, terkadang wajahnya berubah sangat serius—sama persis ketika berhadapan dengan berkas-berkas kantor—dan terkadang pria itu tak bisa menahan tawanya hingga nyaris menangis.
Meski jarang menemukan quality time, mereka berdua selalu akrab dan kompak. Jika diperhatikan seksama, selera humor mereka sama persis. Mungkin pepatah like father like son benar adanya.
“Ify itu yang anaknya pintar ya?” tanya papanya.
“Papa kenal?” balas Gabriel.
Papanya menggeleng, “Laporan. Soalnya dia salah satu calon penerima beasiswa kuliah di Aussie setelah lulus dari Budi Karya.”
“Rio jatuh cinta sama Ify,” kata Gabriel tak nyambung.
“Oh ya? Selera Rio tinggi seperti Reon,” canda papanya.
Gabriel hanya tertawa renyah.
“Kamu sendiri?” lanjut papanya menyurutkan tawa Gabriel.
Terlintas bayangan wajah Sivia yang begitu cantik saat tertawa. Ya, saat itu dia terlihat seribu kali lebih cantik karena lesung pipit yang indah itu tampak.
“Sivia?”
Gabriel terkekeh mendengar suara papanya. Selalu. Papanya selalu bisa menebak apa yang dia pikirkan.
***
“Pa, ada yang mau Rio bicarain ke Papa.”
Reon Haling menatap heran putranya. Satu-satunya penerus perusahaan yang dirintisnya dari nol besar. Rio, ia sudah tumbuh menjadi laki-laki yang diharapkannya. Dewasa, pandai mengurusi perusahaan ini dan patuh akan titahnya.
Pria itu tak tahu kalau kali ini Rio datang bukan sebagai robot seperti biasa. Kini, Rio datang sebagai laki-laki yang sedang mempertahankan mimpinya. Dia datang sebagai laki-laki yang tak mau kalah. Dia datang bersama sisa-sisa harapan yang ia punya. Seperti kata Ify, dia harus punya tekat. Untuk itu, Rio datang menghadap papanya dengan tekat.
“Duduk,” titah papanya.
Rio masih berdiri. Sekali lagi, dia sudah membulatkan tekat supaya tak mau diatur lagi. Kalau dia duduk, sama saja ia menuruti titah papanya.
“Rio mau mundur dari perusahaan ini,” ucap Rio membuat papanya reflek berdiri.
“Apa kamu bilang?” tanya Reon dengan nada meninggi.
Sudah ia duga reaksi itu akan dia terima.
“Rio mundur. Rio mau keluar. Rio capek jadi robot Papa yang selalu menuruti apa yang Papa mau,” jawab Rio seakan menantang.
Ketakutan Rio entah lenyap kemana. Bahkan, disaat ia bisa melihat jelas urat-urat yang timbul di garis wajah Reon, Rio masih tetap tenang.
“Daridulu Rio mau jadi musisi, bukan suruhan Papa. Rio cinta musik. Sudah cukup selama ini Papa paksa Rio jadi apa yang Papa mau,” kata Rio lagi.
Tangan Reon melayang ke wajah putranya. Rio, ia masih tenang walau sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah. Aura murka terpancar jelas dari wajah Reon. Tapi, Rio tak bisa lari-lari lagi.
“Sudah Papa bilang, musik nggak akan bikin kamu sukses. Takdir kamu sudah jelas, Rio. Kamu yang akan meneruskan perusahaan ini karena kamu satu-satunya.”
Ucapan itu penuh penekanan di setiap kalimat.
“Takdir yang Papa gariskan buat Rio?” balas Rio seraya mengusap darah segar di sudut bibirnya.
“Lancang sekali kamu! Siapa yang mengajarimu?”
“Papa,” jawab Rio.
“Semua yang Rio dapat semuanya ajaran dari Papa. Seakan-akan, semuanya emang sudah Papa setting buat Rio sampai Rio nggak bisa nentuin apa yang Rio mau dan inginkan. Gitu kan, Pa?” imbuhnya.
Atmospher ruangan kantor papanya itu berubah mencekam. Ada dua matahari di sini. Dua matahari yang saling beradu siapa yang paling panas.
“Semua yang Papa lakuin itu buat kebaikan kamu!”
Rio geleng-geleng, “Buat kebaikan Papa. Sejak Papa kasih skenario hidup buat Rio, Rio nggak tahu apa yang seharusnya Rio raih.”
“Keluar dari ruangan ini,” titah papanya tetap keras kepala.
Rio tersenyum pahit.
“Selamat malam, Pak Reon Haling,” pamit Rio lalu meninggalkan papanya yang menatapnya tajam.

*** 
Bersambung...
Huhuu bener-bener takut ini mengecewakan. Sudah mulai tampak konflik-konfliknya ya huehehe jangan lupa kritik dan saran (lagi rajin balesin komen hm)
Follow ask.fm/fannyslma ya

Jumat, 22 Juli 2016

Cerbung [FF] - When You Hold Me part 16

Tittle: When You Hold Me
Author: Fanny Salma

Halooo finally saya kembali dengan WYHM. Mau post ini kok rasanya berat karna bener-bener nggak pede. Udah diedit berkali-kali, tapi masih belum puas juga sampai akhirnya saya nyerah. Saya post seadanya saja hehe

Hope you like it...

16


Pengumuman mengenai peniadaan pelajaran khusus kelas XI membuat mereka bersorak senang, terutama bagi kelas yang hari ini ada ulangan. Sangat kontras dengan anak-anak kelas X dan XII yang menatap iri. Anak-anak kelas XI sengaja dikirim ke SMA Global untuk menjadi supporter Cakrawala dan Cakradara yang hari ini melakukan pertandingan.
Sejujurnya ini adalah mandat dari Gabriel, si anak pemilik yayasan. Tahun lalu, mereka tetap melakukan kegiatan belajar mengajar meskipun ada pertandingan. Namun sekarang Gabriel mengubah peraturan—dengan persetujuan kepala sekolah—karena selain Cakka ada diantara orang-orang yang berjuang untuk kemenangan sekolah, dia juga ingin lebih peduli dengan sekolah yang dibangun papanya ini.
“Jadi, nilai ulangan fisika gue udah mencapai KKM nih?” cetus Alvin.
Gabriel mengangguk. Selain membebaskan anak-anak kelas XI dari KBM, Gabriel mengatakan bahwa siapapun yang ikut memberi support di SMA Global maka nilai ulangan fisikanya sudah mencapai KKM. Ya, beruntung sekali karena Bu Maryam bisa diajak kompromi. Tentunya tak ada yang menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagipula, memberi support bukan hal yang susah.
“Gue juga udah siapin poster-poster buat dukung tim basket. Sebagian udah dikasihin ke anak-anak, satu lagi ada di mobil gue buat kita pegang selama pertandingan nanti,” jelas Gabriel.
“Semoga kebaikan lo dibalas Yang Maha Kuasa, sahabatku,” ceplos Sivia membuat Gabriel melengos.
“Tanpa reward itu pun fisika gue selalu di atas KKM,” timpal Ify menyombong ke Sivia.
“Lo mah beruntung aja dapet otak yang kayak Einsten, disayang Bu Maryam pula,” bantah Sivia.
“Itu sih lo aja yang nggak pernah belajar,” sahut Gabriel.
Sivia mengecurutkan bibirnya.
“Tim menolak Sivia bahagia kayaknya makin banyak ya,” curhat Sivia.
“Apaan tuh tim menolak Sivia bahagia?” tanya Shilla bingung.
“Kalian,” jawab Sivia seenaknya.
“Biasa, Shil. Dia lagi suka kasih nama-nama nggak jelas, palingan itu salah satu kekreatifannya lagi,” timpal Rio.
Shilla tertawa mendengarnya. Ah, belum lama mengenal Sivia dan Ify tapi dia sudah sangat nyaman dengan dua gadis ini. Sivia sangat lucu, cablak dan terkadang terkesan nyolot. Kalau Ify, Shilla tak tahu harus menjabarkan Ify seperti apa. Tetapi dia sangat baik dan memahaminya. Ditambah lagi dengan Agni. Meskipun dulu sempat bentrok dengannya, Shilla sekarang jadi tahu kalau Agni sangat humble dan royal.
“Ini kita jadi berangkat nggak? Keburu pertandingannya kelar,” kata Alvin tak sabar.
“Oh iya. Ya udah yuk. Kita pakai mobil siapa?” sahut Shilla.
“Pakai mobil masing-masing. Kan kita nggak mungkin balik lagi ke sekolah. Selain lumayan jauh, gue juga mager,” jawab Alvin.
“Terus gue sama Sivia gimana?” tanya Ify bingung. Sama persis seperti kemarin, saat Gabriel dan Rio sama-sama membawa mobil.
“Susah deh ya kalo naiknya angkutan umum kayak kita, Fy,” dengus Sivia.
“Sama gue dong. Yuk!” sahut Shilla dengan sedikit terkekeh.
Ify dan Sivia spontan bertosria—entah dalam rangka apa—kemudian mereka semua berjalan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, mereka berpisah dan menghampiri mobil masing-masing. Tentunya Ify dan Sivia mebuntuti Shilla.
***
Langkah kaki Agni terlihat buru-buru menuju lapangan. Gadis itu hanya bisa nyengir ketika teman-teman lainnya sudah berada di sana dengan wajah masam karena terlalu lama menunggu. Rikuh, Agni semakin mempercepat langkahnya lalu maju dan berdiri di samping Cakka serta Pak Reihan.
“Maaf, tadi bener-bener macet,” ujar Agni.
“Berhubung semuanya sudah lengkap, silahkan ganti seragam kalian terlebih dahulu. Setelah itu kalian kembali berkumpul di sini.”
Semuanya menurut lalu membubarkan diri untuk berganti seragam. Beberapa menit kemudian, tim basket kembali dengan kaos kebanggaan mereka. Betapa terkejutnya mereka saat sadar bahwa nyaris seluruh kelas XI berada di tribun. Cakka melihat sahabat-sahabatnya yang membawa poster bertuliskan ‘CAKRAWALA DAN CAKRADARA BISA!’ sedang melambaikan tangan ke arahnya. Pemuda itu lantas menyenggol lengan Agni.
“Apaan?” tanya Agni bingung.
“Tuh,” cetus Cakka menunjuk sahabat-sahabatnya.
Agni mengikuti arah pandang lelaki di sebelahnya. Detik selanjutnya senyum gadis itu merekah. Agni dan Cakka lantas berdadahria.
“Si Gabriel minta ke kepsek supaya anak-anak angkatan kita ke sini buat kasih support,” celetuk Debo yang kemudian meneguk air mineralnya.
“Pantesan. Gue pikir kita bakalan kekurangan supporter,” sahut Agni.
“Sama. Lo tahu sendiri lah gimana supporter anak-anak SMA Global. Ngeri cuy! Gue yakin final kita hadap-hadapan sama mereka kayak tahun lalu,” timpal Olin yang tanpa sengaja mendengar obrolan mereka.
Cakka lantas mengedarkan pandangannya. Ah, jelaslah supporter SMA Global sebanyak ini. Ini  kan kandang mereka!
“Mau supporter kita banyak atau sedikit nggak masalah. Kita kan udah latihan keras, masa cuma karna supporter jadi minder? Gue yakin kok kita bakalan sampai final,” dalih Cakka.
“Bener kata Cakka. Udah, nggak usah mikirin aneh-aneh,” timpal Agni.
Obrolan itu terhenti ketika Pak Reihan menginterupsi supaya Cakrawala berkumpul berhubung pertandingan akan dimulai. Agni lantas duduk bersama teman-teman setimnya. Tahun lalu dia juga memimpin Cakradara dan menembus juara 1, sayangnya Cakrawala yang dipimpin Patton hanya sampai juara 2.
Agni menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan dan berhenti di satu titik. Gadis itu menyipitkan matanya, berusaha mengingat seseorang yang sedang diperhatikannya saat ini. Seorang laki-laki yang sepertinya begitu familiar bersama gadis cantik berpakaian cheers.
Perempuan yang ternyata anggota cheers dari SMA Global tersebut lantas bergabung bersama teman-teman cheers lainnya dan  si laki-laki familiar itu pun bergabung bersama tim basket. Ah, Agni ingat laki-laki itu adalah kapten basket Global. Tapi, bukan hal itu yang berusaha diingatnya.
“Ag, lihatin apaan?” tanya Zevana.
Agni tampak gelagapan, “Nggak kok.”
“Eh ayo gabung sama Pak Reihan,” cetus Olivia.
“Agni! Ayo!”
Agni kembali gelagapan. Gadis itu lantas mengikuti teman-temannya.
***
Pertandingan basket ini dibuka dengan performance tim cheers dari SMA Global. Para gadis cantik itu melakukan berbagai gerakan dengan sangat sempurna, nyaris tak ada cacat. Banyak sekali penonton yang terpukau, tak terkecuali supporter dari Cakrawala.
“SMA Global daridulu selalu bikin ngeri,” ceplos Sivia.
Ify mengangguk setuju meskipun baru sekarang dia dan Sivia menonton pertandingan secara live seperti ini. Mengenai kengerian SMA Global pun mereka tahu dari Agni. Tahun lalu, Agni dibabat habis oleh Global hingga sempat cidera ringan. Untungnya Agni dan kawan-kawan berhasil mempertahankan tim mereka sampai ke final dan akhirnya menang.
Pertandingan pertama, Cakrawala dan Cakradara sama-sama lolos dengan sangat mudah. Sepertinya kedatangan supporter yang lumayan banyak membuat semangat mereka membuncah.
Sampai beberapa jam kemudian bersama ketegangan yang luar biasa, dua tim kebanggaan Budi Karya berhasil memasuki final dan melawan SMA Global. Seperti tahun lalu. Bedanya, hari ini mereka kembali berhadapan dengan anggota tim yang berbeda—kecuali Agni.
“Fy... lihat itu!” seru Sivia.
“Apaan?” tanya Ify bingung.
“Perhatiin anggota Global.”
Sejurus kemudian Ify mulai memperhatikan tim basket dari Global. Betapa terkejutnya gadis itu saat matanya menangkap sosok yang amat dikenalnya.
“Dia sekolah sini?” tanya Sivia.
Ify menggeleng, “Gue juga baru tahu.”
“Are you ok?”
Tak ada sahutan dari Ify. Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya dari sosok tersebut. Sementara itu, Alvin yang duduk di sebelah Sivia menyenggol lengan gadis tersebut.
“Apa?” tanya Sivia.
“Ify kenapa?” balas Alvin.
Saat hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar teriakan dari penonton. Para penonton lantas memfokuskan perhatian mereka di tengah lapangan.
“Kenapa tadi?” tanya Sivia entah pada siapa.
“Gue juga nggak lihat,” timpal Ify.
“Global mainnya agak kasar. Debo disenggol sampai jatoh,” sahut Gabriel.
Suasana pertandingan antara Cakrawala dan Global semakin memanas. Global berhasil memancing emosi Cakrawala dengan menjatuhkan salah satu pemainnya. Debo, pemuda itu meringis merasakan nyeri di kakinya.
“Gimana, De? Perlu diganti?” tanya Cakka.
Debo menggeleng, “Gue masih bisa kok. Gue nggak mau kehilangan moment di final.”
“Tapi kaki sama tangan lo beneran nggak pa-pa?” tanya Olin.
“Sialan emang mereka! Mainnya kasar banget!” lanjutnya.
“Yaudah kalo masih bisa, ayo kita main lagi,” kata Cakka dengan rahang mengeras.
Cakka berusaha mengatur emosinya. Sejujurnya, dia tidak pernah berada di pertandingan seperti ini dan ternyata rasanya teramat berat. Pemuda itu melirik ke arah sahabat-sahabatnya yang ikut menatap cemas namun tetap meneriakkan support. Cakka menggeleng keras, dia tidak boleh mengecewakan siapapun.
“Debo, lo tuker posisi sama Olin,” ujar Cakka yang langsung disepakati.
Permainan kembali di mulai. Cakka benar-benar fokus pada pertandingan ini. Sebagai point guard, dia tidak boleh salah membaca pergerakan lawan. Otak Cakka mulai bekerja mencari strategi untuk melumpuhkan pergerakan lawan. Semuanya berjalan lancar.
“Debo!” seru Cakka.
Debo lantas mengangguk dan menerima sang orange dari tangan Olin. Tanpa berlama-lama lagi, pemuda itu men-shoot ke arah ring. Gagal. Olin lantas melakukan rebound dengan cepat dan...
“CAKRAWALAAAAA!!!”
Shoot. Skor mulai beda tipis namun Global tetap lebih unggul. Cakka mengacungkan jempolnya lalu melanjutkan permainan. Kali ini tim Cakrawala memperketat pengawasan terhadap Global. Ternyata benar, Global bukanlah sembarang tim yang bisa dianggap remeh.
Debo berhasil menguasai bola kembali. Sayangnya, pemuda itu dihadang hingga tak  dapat bergerak. Dahi Debo tampak mengerut sampai tiba-tiba kekasaran dari permainan Global terulang kembali.
“DEBO!!!”
Pemuda itu kembali terjatuh. Kali ini sakitnya luar biasa.
“FUCK! SIALAN! LO SENGAJA YA?!!!” teriak Olin melabrak pemain Global yang menyenggol Debo.
“Nggak tuh.”
“BULLSHIT!”
Cakka langsung bergerak menarik Olin, “Udah. Calm down.”
“Tapi, Cak. Gue yakin dia sengaja! Debo nggak akan jatuh kalo itu nggak sengaja. Gue yakin dia sengaja!” nyolot Olin mulai berapi-api.
“Inget ucapan gue? Sekasar apapun permainan basket lawan, kita harus bisa mengendalikan diri. Kalau mereka matik api, kita bikin hujan, jadi kita nggak akan kebakar,” balas Cakka.
Pemuda itu lalu menghampiri Debo yang meringisi kesakitan.
“Deb, gimana? Ganti?” tanya Cakka.
“Lo kapten macam apa sih, Cak?” sengit Olin.
Cakka menatap Olin dengan sorot tak percaya, “Lin, gue mohon supaya lo mengendalikan diri sampai pertandingan ini selesai.”
“Gue mulai ragu sama lo,” kata Olin lagi.
“Olin, jaga ucapan lo,” tegur Debo.
“Nggak pa-pa lo ragu sama gue, asal lo masih percaya sama kemampuan lo. Ayo kita lanjutin lagi. Kita masih bisa ngejar skor,” balas Cakka membuat Olin menunduk.
“Sori, gue emosi,” ujar Olin pelan.
“Nope.”
“Gue ikut, Cak. Jangan diganti,” kata Debo.
Cakka mengangguk. Permainan kembali dimulai. Kali ini Cakrawala bermain dengan lebih kompak dari sebelumnya. Banyak yang terpukau dengan permainan mereka saat ini. Terlihat lebih bernyawa.
“Sebentar lagi,” batin Cakka.
Pemuda itu berhadapan dengan kapten Global dengan bola yang masih berada di tangan Cakka. Keringatnya sudah mengucur deras.
“Sekarang.”
Dan tiba-tiba Cakka lolos dari kapten Global lalu melesat. Pemuda itu melakukan slam dunk hingga membuat semua orang terpukau.
“HUAAAAA CAKRAWALAAAAA!!!!”
Tepat saat itu, permainan berakhir. Cakka menatap papan skor dengan tak percaya. Teman-teman satu timnya lantas berlari ke arah Cakka yang masih terpaku. Cakrawala berpelukan sangat erat. Para pendukung Cakrawala pun tanpa sadar ikut saling berpelukan.
“KITA MENANG CAK! KITA MENANG!” seru Debo.
Cakka masih tak bergerak, “Bilang sama gue ini bukan mimpi.”
“BUKAN BEGOOOO!!!”
Mereka semua tergelak. Cakradara beserta Pak Reihan lantas menghampiri.
“Selamat ya kalian,” ujar Cakradara.
“Cakka yang tadi itu... keren banget!” pekik Agni.
“Habis ini gantian Cakradara. Kalian juga harus menang ya,” balas Cakka seraya terkekeh.
Agni mengangguk.
***
Kali ini gantian tim Cakradara yang unjuk kebolehan. Agni, gadis itu sudah terkenal di sekolah-sekolah lain karena kemampuan basketnya. Dan sekarang, dia kembali unjuk diri hingga membuat tim lawan sedikit kehilangan kepercayaan diri.
“Jump ball.”
Agni berdiri di tengah bersama kapten dari tim lawan. Kalau tidak salah, namanya Aren. Mereka sempat bertemu beberapa kali saat gathering namun tak sempat mengobrol.
Saat bola basket itu melayang di udara, Agni yang lebih tinggi dengan mudah menggapainya. Bola lantas dikuasai Cakradara. Permainan basket Agni memang tak bisa diremehkan oleh  siapapun. Belum lagi gadis itu punya banyak strategi yang dapat melumpuhkan tim lawan dengan cepat.
Perebutan bola mulai terjadi. Sayangnya, belum ada yang berhasil merebut bola dari tangan Cakradara. Agni memang sudah mengantisipasi. Sementara itu, Agni sengaja menempatkan Zevana di posisi center karena perawakannya yang paling tinggi. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa Cakradara sudah mempunyai pondasi yang kokoh.
“Oliv, fokus!” seru Agni.
Olivia yang sempat buyar konsentrasinya kembali fokus karena teriakan Agni. Entah mengapa, permainan basket putri justru lebih menegangkan dibanding Cakrawala tadi. Sebab, dua tim yang sedang bermain ini sama-sama punya potensi tinggi untuk menang. Permainan mereka dikemas dengan sangat sempurna. Sudah setengah jam, Cakradara masih memimpin. Tak ayal, semua orang mengagumi Agni.
Di bangku penonton, Ify dan Sivia masih terkagum-kagum menyaksikan sahabat mereka berlaga. Meski sudah sering menjadi penonton untuk Agni, kekaguman itu selalu ada.
“Gue nggak kedip lihat Agni,” ceplos Shilla.
“Sama,” sahut Rio.
“Permainannya bener-bener... rapih. Beda banget sama cowok-cowok tadi,” kata Ify.
Mereka mengangguk setuju.
“Kata Agni sih tim yang sekarang lebih tahan banting. Mau kasar pun nggak akan ngefek apa-apa,” ceplos Sivia.
“Kelihatan banget kok,” timpal Gabriel.
Sementara  Alvin, dia asik menonton dan malas berkomentar.
Sampai pada akhirnya, Cakradara meraih kemenangan. Para supporter dari Budi Karya bersorak gembira karena meraih kemenangan besar hari ini. Bukan hanya kemenangan Cakrawala dan Cakradara, tetapi juga kemenangan Agni sebagai kapten terbaik.
***
Ify dan kawan-kawan menuju ke tempat Cakrawala dan Cakradara berkumpul untuk memberikan selamat. Dua tim hebat itu tampak melakukan selebrasi dengan wajah bahagia.
“AGNIII!” seru Ify dan Sivia.
Agni menoleh, “WOO KALIAANNN!”
Mereka lantas berpelukan.
“Gue sangat amat bangga sama elo. Nggak sia-sia lo jadi sahabat gue,” ceplos Sivia yang langsung kena toyor dari Agni.
“Selamat, Ag. Selalu,” timpal Ify.
Agni terkekeh lalu menganggukkan kepala.
“Agni, selamat yaaa! Lo keren banget!” kata Shilla yang membuat Agni sedikit kikuk.
Tak urung, gadis itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu banyak sekali ucapan selamat berhamburan. Bukan hanya untuk sang kapten terbaik, tapi juga untuk seluruh tim yang sudah bekerja keras.
“Gue nggak diselametin khusus nih?” celetuk Debo.
Pemuda itu tengah menyelonjorkan kakinya yang masih terasa sakit. Mereka lantas menghampiri Debo dan menatapnya tidak tega.
“Selamat untuk pejuang luar biasa yang sial banget karna kena gempur mulu,” kata Ify membuat Debo melotot ke arahnya.
“Nggak gitu juga ya,” sewotnya.
“Kaki lo masih sakit?” tanya Sivia.
“Sakit. Banget,” jawab Debo.
“Sukurin!” seru Sivia menyebalkan.
“Parah lu, Siv. Ini temen lo udah kayak gini malah disukurin,” nimbrung Agni yang baru saja selesai menerima ucapan selamat.
Sivia hanya nyengir mendengarnya.
“Cak, sori buat yang tadi. Maaf karena gue sempet ragu sama lo,” kata Olin mengalihkan perhatian.
“Nggak pa-pa,” sahut Cakka.
“Kaki lo gimana, Deb? Sori tadi gue nggak maksa lo diganti,” imbuhnya beralih ke Debo yang juga menyimak obrolan Olin dan Cakka.
“Better. Gue justru seneng karna nggak diganti,” kekeh Debo.
Cakka ikut terkekeh, “Lo lebih tahu kemampuan lo dibanding gue, kalau lo yakin maka gue juga juga harus yakin. Jadi, tadi gue iyain aja pas lo bilang lo mau tetep main.”
“Bapak bangga sekali sama kalian semua. Untuk itu, setelah ini kita akan merayakan kemenangan. Gimana kalau di Cafe deket-deket sini?” cetus Pak Reihan.
Para tim basket mengangguk semangat.
“Tapi, sepertinya saya sama Agni mau rayain bareng mereka aja, Pak,” tolak Cakka menunjuk sahabat-sahabatnya.
“Yahhh nggak asik dong kalo kaptennya kabur,” ceplos Olivia.
“Sekarang lo rayain bareng tim basket aja, Cak. Nanti malam bareng kita, gimana?” usul Shilla.
“Boleh tuh kata Shilla,” seloroh Debo.
“Ya udah, gitu aja,” kata Agni.
“Sip!”
“Kalau gitu, kami pulang dulu ya,” pamit Gabriel.
“Terima kasih untuk partisipasinya ya, Yel,” balas Pak Reihan.
Gabriel hanya menganggukkan kepala lalu undur diri bersama sahabat-sahabatnya.
***
Tim menolak Sivia bahagia berjalan menuju parkiran SMA Global yang masih lumayan ramai, tapi tidak seramai saat mereka datang ke sini. Mendadak langkah Ify terhenti saat seorang pemuda yang amat dikenalnya sedang duduk berdua bersama gadis cantik. Kaki Ify mendadak kaku. Sivia yang sadar akan hal itu menatap Ify dengan sorot mata penuh makna.
“Kita lewat jalan lain aja?” tawar Sivia.
Ify menoleh lalu menggeleng, “Nggak pa-pa.”
Shilla, Alvin, Gabriel dan Rio bertanya-tanya apa yang sebenarnya dua gadis itu obrolkan. Rikuh, mereka memilih diam.
Langkah mereka semakin dekat dengan objek yang tadi dibicarakan. Ify berusaha menguasai dirinya, sementara Sivia mendadak cemas. Saat nyaris melewati, tiba-tiba...
“Ify...”
Langkah Ify terhenti. Begitu pula dengan yang lainnya. Ify menoleh, memasang senyum yang tampak dipaksakan.
“Hm, Ray...”
“Lo sekolah di Budi Karya?” tanya pemuda tersebut.
Ify sedikit melirik ke si anak gadis itu, “Iya.”
“Lo kapten basket Global kan?” ceplos Gabriel.
Ray—nama pemuda itu—beralih ke Gabriel kemudian menganggukkan kepala. Dia lantas kembali fokus pada Ify yang terlihat enggan bertemu dengannya. Tanpa sadar, Ray mendengus, sekelebat masa lalu antara dia dan Ify mendadak terputar di otaknya.
“Oh iya, kenalin. Ini Iley,” kata Ray menunjuk anak gadis di sampingnya.
“Ify. Hm, gue duluan ya,” balas Ify tanpa mengulurkan tangan sama sekali.
Sejurus kemudian, Ify menarik lengan Sivia dan berjalan meninggalkan Ray dan Iley.  Tim menolak Sivia bahagia lantas mengikuti dengan bingung. Sementara itu, Ray mendesah, ia menatap Iley yang mungkin sedang bertanya-tanya.
“Harusnya lo tadi jangan begitu,” kata Sivia melepaskan tangannya.
Ify memijat keningnya, “Bodo ah.”
“Tadi siapa sih, Fy?  Kok lo jadi aneh?” tanya Shilla bingung.
“Bukan siapa-siapa kok. Hm, Shil, boleh nebeng sampai rumah gue?” balas Ify.
“Gue ke rumah lo aja gimana? Ntar malem kan kita rayain kemenangan Cakka sama Agni, biar sekalian gitu,” usul Shilla.
“Oke. Lo gimana, Siv?” tanya Ify beralih ke Sivia.
Belum sempat bicara, Alvin menyela lebih dulu.
“Sivia biar sama gue. Kebetulan gue disuruh jemput Deva di rumah Sivia,” katanya.
“Kak Deva ngapain di rumah Sivia?” tanya Gabriel.
“Ketemu Bang Lintar, sepupunya Sivia,” jawab Alvin sekenanya.
“Bang Lintar itu sahabatnya Kak Deva dan sekarang tinggal di rumah gue karna gaya hidupnya nggak sehat. Orang tuanya kan di Aussie, dia dititipin gitu ke bokap sama nyokap biar ada yang ngawasin,” jelas Sivia.
“Ohh. Terus nanti kumpul dimana?” tanya Gabriel.
“Langsung di Cafe aja.”
***
Impian yang dulu pernah ia tinggalkan ternyata jadi kenyataan. Cakka, dia menatap haru ke arah teman-temannya. Ia masih tak percaya bahwa ia berhasil memembawa timnya menjemput kemenangan. Bahkan, baru saja, Pak Reihan mengumumkan bahwa Cakka didaulat menjadi kapten basket sungguhan. Bukan lagi kapten sementara.
“Bapak yakin sekali kamu bisa memimpin Cakrawala dengan baik,” ujar Pak Reihan.
“Saya akan berusaha,” sahut Cakka.
Debo dan Agni lantas merangkul Cakka secara bersamaan.
“Mantap, bro!” seru Debo.
“Gue ikut seneng, Cak,” kata Agni.
Cakka menoleh ke arah Agni hingga jarak wajah mereka teramat dekat.
“Kalau bukan karna elo, gue nggak mungkin bisa kayak gini,” kata Cakka.
Agni memalingkan wajahnya karena pipinya memanas. Ah, dia berharap Cakka tak mendengar irama jantungnya yang berantakan.
“Kenapa lu, Ag? Kok kayak kepanasan gitu?” celetuk Olin sekaligus menggoda.
“Deg-degan banget ya deket-deketan sama Cakka?” imbuh Zevana.
Semuanya terkikik mendengarnya, tak terkecuali Cakka, sedangkan Agni hanya melengos karena pipinya semakin memanas. Ia yakin sekarang pipinya sudah semerah kesumba. Gadis itu memilih untuk ke toilet dibanding mendengarkan gurauan teman-temannya yang semakin menjadi.
“Tanggung jawab lu, Cak. Anak orang lu bikin salting.”
Agni masih bisa mendengar suara Debo saat berjalan menjauhi teman-temannya.
“Gue sama Agni tuh sahabatan, nggak mungkin dia salting lah,” elak Cakka.
Lagi-lagi ia masih mendengar suara pemuda itu. Agni buru-buru mempercepat langkahnya menuju toilet. Sesampainya, gadis itu menatap wajahnya di cermin. Sangat kontras jika dibandingkan dengan Shilla. Mengapa dia tiba-tiba membandingkan dirinya dengan Shilla?
Agni tidak tahu. Yang dia tahu, lelaki seperti Cakka lebih pantas bersanding dengan gadis secantik Shilla. Minimal bukan yang seperti dia. Agni mendesah, dia pesimis, belum lagi mendengar ucapan Cakka tadi. Mereka hanya sebatas sahabat.
“Stop mikirin aneh-aneh Agni,” ucapnya pada diri sendiri.
Dia buru-buru mencuci muka lalu kembali.
“Udah mau pulang?” tanya Agni.
“Iya. Udah jam segini,” jawab Olivia.
“Bareng gue kan, Ag?” tanya Cakka seraya menyelempangkan tasnya.
“Gue mau nebeng Zevana deh, kan searah,” jawab Agni.
“Mau nebeng gue?” tanya Zevana.
Agni mengangguk.
“Oke deh.”
“Oh ya udah, gue duluan ya. Ntar malem kalo mau bareng gue nggak pa-pa kok,” ujar Cakka yang hanya dibalas anggukan oleh Agni.
Setelah Cakka pergi, Agni bernafas lega. Dia sedang tak bisa mengontrol detak jantungnya jika berdekatan dengan pemuda itu.
***
Rumah Ify tak kalah luas jika dibandingkan dengan rumah Shilla. Harus dia akui bahwa desain interior rumah ini begitu menarik. Kata Ify, kedua orang tuanya sedang pulang kampung karena semalam neneknya sakit.
“Lo sendirian dong?” tanya Shilla.
Mereka sedang menaiki anak tangga satu persatu.
“Ada Ozy. Dia adek gue, masih SMP. Biasanya jam segini lagi tidur,” jawab Ify sekenanya.
“Lucu,” komentar Shilla menunjuk foto-foto polaroid yang sepertinya sengaja dipajang sebagai hiasan pintu. Semua foto itu berisi foto Ify dari bayi sampai sekarang.
“Bokap gue emang suka fotografi dan suka ngehias rumah pakai foto-foto, kalo gue mah mending baca novel sampai jereng,” sahut Ify lalu membuka pintu kamarnya.
Shilla takjub melihat kamar Ify yang lagi-lagi penuh dengan foto. Gadis itu berkeliling dan menatapi tembok yang digambar seperti frame, disitulah foto-foto mendominasi.
“Banyak amat,” katanya.
Ify menarik ujung bibirnya, “Kalau ini gue yang nempelin. Bokap cuma berperan nyediain tempat. By the way, ini adek gue namanya Ozy, terus ada juga foto sama Sivia dan Agni.”
“Lo sama Sivia udah kenal dari kecil?” tanya Shilla kaget.
“Iya. Udah sekitar tiga belas tahun lebih,” jawab Ify.
“Wow! Lebih lama dari The Wanted,” tanggap Shilla membuat Ify tertawa kecil.
Ify lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur, detik berikutnya ia memejamkan mata, ingatannya lantas berputar pada kejadian saat berada di SMA Global tadi. Hhh, lelaki itu... Ray. Kalau tahu ada Ray di sana, Ify bersumpah akan membuat seribu alasan supaya ia tak datang.
Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Baru satu tahun. Lain lagi jika pertanyaannya adalah sudah berapa lama mereka saling diam? Jawabannya sudah dua setengah tahun. Dan tiba-tiba, mereka harus bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda, belum lagi dengan kanyataan bahwa Ray sudah menemukan seseorang yang lebih baik darinya. Errr, Ify meringis. Tak tahu mengapa rasanya masih tak rela.
“Ini... Ray kan, Fy?”
Gadis itu tersentak mendengar pertanyaan Shilla. Sedari  tadi Ify membiarkan Shilla menelusuri foto-fotonya.
“Salah lihat kali,” jawab Ify.
“Name tag-nya masih kebaca, Ify,” keukeuh Shilla.
Sejurus, Ify merutuki kebodohannya. Sudah lama sekali ia ingin melepaskan fotonya bersama Ray dari sana tapi entah mengapa rasanya sulit. Ada sesuatu yang membuatnya enggan.
“Jadi, bener ya dugaan gue kalo elo sama kapten basket Global itu ada something?”
Ify memutar otaknya, “Nggak seperti yang lo pikir.”
“Kenapa gue nggak yakin ya? Tatapan lo ke dia tadi seperti... tatapan luka?”
“Jadi, lo udah pandai ngamatin orang?” kekeh Ify.
Shilla lalu duduk bersila di samping Ify.
“Kebetulan. Lama-lama gue merasa lo mirip Alvin. Sama-sama susah ditebak, sama-sama paham apa yang gue rasain, dan tertutup.”
“Nggak usah dipikirin soal Ray. Apapun yang lo lihat, I’m fine.”
Bohong. Ify berbohong mengatakan dirinya baik-baik saja. Setelah apa yang terjadi sekian tahun ini, dia baik-baik saja? Dan dengan bodohnya, Shilla mempercayai kebohongannya. Mungkin bukan hanya Shilla, tapi juga semua orang. Kecuali Sivia.
“Ray, apa yang udah gue lewatkan?”
***
Hanya berdua bersama orang yang kita cintai memang bukan hal mudah. Terkadang, Sivia harus berusaha mati-matian untuk tidak tenggelam saat memandangi wajah Alvin. Ah, sialan! Semakin dipandang, Sivia jadi harus mengakui bahwa pemuda itu sangat tampan. Demi neptunus, selama ini laki-laki yang diakuinya tampan hanyalah aktor korea kesukaannya. Sekarang dia justru memuji-muji Alvin.
Belum lagi Sivia harus mengurus debaran jantungnya yang iramanya berantakan hingga membuatnya keringat dingin. Tapi, dia menikmati semua ini. Dia suka. Sivia bergumam dalam hati, ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta. Setelah bertahun-tahun hidup di bumi, baru sekarang Sivia mengalami yang namanya jatuh cinta. Kalau tahu akan seindah ini, dia pasti akan menerima dengan senang hati. Sayangnya, Sivia tahu persis akan ada moment dimana keindahan ini akan lenyap. Seperti kisah cinta Ify beberapa tahun silam.
“Tumben lo diem,” cetus Alvin karena merasa aneh dengan sikap Sivia yang mendadak kalem.
Sivia terkesiap, “Kalo ngomong ntar lu katain berisik.”
Tak urung Alvin menarik ujung bibirnya hingga membentuk senyum tipis. Sangat tipis hingga Sivia sendiri tak yakin telah melihatnya. Selanjutnya, gadis itu bersorak dalam hati, menahan pekikan girang yang mungkin akan membuat Alvin mengira gadis disebelahnya sedang kesurupan. Ah, Sivia berhasil merekam senyum itu. Senyum terlangka saat pemuda tersebut bersamanya.
“Rumah lo yang mana?” tanya Alvin.
Sivia bergumam. Mengapa mendadak ia lupa letak rumahnya sendiri?
“Lo nggak tinggal di Ragunan kan?” tanya Alvin—lagi.
“ENAK AJA!” protes Sivia dengan nada nyolot dan tatapan siap membunuh.
“Keluar deh singanya,” seloroh Alvin.
“Kalau gue singa, gue pasti minder deket-deket sama lu tahu!” balas Sivia.
Kali ini Alvin bukan hanya tersenyum, melainkan tertawa. Perlahan suara Sivia kembali lenyap. Hanya ada suara tawa Alvin yang membuat fokus Sivia tersedot seakan-akan tawa itu adalah lagu terindah yang sedang ia dengar.
Sivia meneguk ludahnya sendiri. Seandainya ada Ify atau siapapun di sini selain dia dan Alvin, gadis itu tak perlu mati gaya seperti ini.
“Oi! Serius nih rumah lu dimana?” tanya Alvin menyurutkan tawanya.
Sivia langsung memalingkan wajah ke arah jendela.
“Anggap aja di khayangan. Gue ngantuk ah,” sahut Sivia lalu memejamkan mata dan pura-pura tidur.
Alvin mengernyit bingung, tapi selanjutnya memilih mengalah dan menanyakan alamat rumah Sivia pada Deva. Setelah mengotak-atik ponselnya, Alvin melirik ke arah Sivia yang masih keukeuh memejamkan mata. Alvin tahu gadis itu tidak benar-benar tidur, tapi ia membiarkannya saja.
Bahkan sampai di tempat tujuan, Sivia masih betah pada posisinya. Alvin sendiri mengambil banyak jeda saat tahu-tahu wangi shampo gadis di sebelahnya menyeruak ke indra penciuman. Ah, Alvin menyukai wangi ini.
“Udah sampai, Mbak,” cetus Alvin tetap manatap lurus ke depan.
Reflek Sivia berakting sedang menguap.
“Nyenyak banget ya tidurnya?” tanya Alvin geli.
“Uhm, he eh,” sahut Sivia.
“Yuk, turun.”
Sivia menggigit bibir bawahnya, disaat seperti ini dia justru berharap Alvin membukakan pintu untuknya. Ah, memangnya dia siapa?
“Mau di sini terus?” tanya Alvin melalui pintu kemudi yang masih terbuka lebar.
“Sabar kali! Gue kan baru ngumpulin nyawa!” sahut Sivia galak.
Selanjutnya, gadis itu turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya. Alvin mendengus. Padahal dia sudah menunggu, tapi seenaknya ditinggalkan.
***
“Ray?”
Kepala Agni menyembul dari pintu kamar Ify hingga membuat dua gadis di dalam ruangan itu nyaris terlonjak karena kaget. Agni nyengir tak bersalah, lalu masuk ke kamar tersebut dan duduk di lantai. Dari gelagatnya, Shilla jadi yakin kalau Agni memang sudah menganggap kamar ini sebagai kamarnya sendiri.
“Ray Prasetya, Fy? Lo ketemu dimana?” tanya Agni tak tahan.
Ify melirik Shilla yang sepertinya mulai penasaran.
“Waktu nonton basket tadi,” jawab Ify.
“Ahhh!” seru Agni tiba-tiba.
“Pantesan tadi gue tuh kayak kenal banget sama kapten basket Global, tapi gue beneran nggak tahu kalau itu Ray. Dia jadi tinggi dan rambutnya nggak gondrong lagi,” kata Agni menjelaskan.
“Orang yang pernah bilang nggak bisa hidup tanpa lo itu belum mati?”
Mereka menoleh ke ambang pintu. Setelah terkejut dengan kedatangan Agni, kali ini mereka dikejutkan dengan wajah datar dan dingin seorang anak laki-laki yang diyakini Shilla sebaggai adik Ify.
“Ozy, sejak kapan lo di sana?” tanya Ify dengan sarat kepanikan.
“Sejak gue denger Kak Agni dateng,” jawab Ozy.
Ify tampak gusar lalu melirik Agni yang menampilkan rasa bersalah karena berbicara terlalu keras dan lupa menutup pintu. Detik berikutnya Ify ikut merutuki dirinya sendiri.
“Gue nggak peduli alasan kalian putus dulu, tapi gue benci sama dia karena seenaknya bikin lo sakit hati lalu pergi gitu aja,” ujar Ozy membuat Ify meremas sepreinya kuat-kuat.
“Bukan dia yang salah. Gue yang salah,” sahut Ify.
“Udah gue bilang gue nggak peduli! Yang gue peduliin itu elo, Kak,” tandas Ozy.
Ify terharu. Adiknya itu semakin hari semakin dewasa. Meski mereka selalu bertengkar karena masalah sepele, dia tahu bahwa Ozy selalu menyayanginya. Menyayangi tanpa kata.
“It’s over, Zy. Dia cuma masa lalu yang sampai kapanpun selalu ada di belakang,” kata Ify.
Semua pasang telinga mengartikan bahwa Ify benar-benar yakin dengan apa yang diucapkan. Gadis itu selalu percaya diri dengan semua yang ia lakukan. Dan entah mengapa, itu selalu membuat semua orang percaya bahwa dia baik-baik saja.
Shilla, ia menelusuri wajah Ify dengan intens. Dia seakan sedang mencari celah kebohongan gadis itu, tapi tak berhasil. Shilla mendesah, ternyata lebih susah mengerti Ify daripada Alvin.
***
 Bersambung...
 Part ini adalah part paling berat karna nggak tahu harus nulis apa -_- ditunggu kritik sarannya ya. Btw follow ask.fm/fannyslma