"Tanpamu,
aku sebatas rindu yang tak pernah sampai ke peraduannya." - Fanny Salma (20yo)

Rabu, 18 Mei 2016

Cerbung [FF] - When You Hold Me part 10

Tittle: When You Hold Me
Author: Fanny Salma

Hellooo. Saya kembali! Kayaknya mulai sekarang WYHM bukan dalam rangka #BangkitkanCRAGSISA tapi lebih ke bangkitkan semangat menulis saya. Eh._.
Ya entahlah ini dalam rangka apa, tapi saya minta maaf karna super ngaret. Maklum, anak kuliahan yang super sibuk dan butuh libur *curhat*
Oke langsung aja..........

Hope you like it guys

10


Sivia tengah menyusuri koridor. Masih cukup pagi karena koridor ini sangat sepi. Paling-paling hanya ada petugas kebersihan yang berkeliaran membersihkan kelas-kelas seperti biasa. Gadis itu tidak begitu memperhatikan jalannya hingga tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan.
Detik berikutnya, dia merasakan seseorang menahannya dan membuatnya tak jadi mencicipi lantai marmer. Sivia mendongak dan terkejut. Seseorang yang menahannya adalah Alvin! Pemuda yang beberapa hari lalu meninggalkannya di Mall. Mereka beradu tatap beberapa detik. Entah apa yang dirasakannya, tapi jantung Sivia berdetak dengan kecepatan di atas rata-rata. Sorot mata Alvin yang dingin dan tak terbaca mampu menyedot dunianya hingga gadis itu hanya bisa terpaku.
“Astaga, Neng nyaris kepeleset? Lantainya baru Bapak pel dan nggak tahu kalo Eneng mau lewat.”
Suara itu menyentakkan Sivia. Reflek, gadis itu memperbaiki posisinya supaya pria yang baru datang ini tak berpikir macam-macam. Sebelumnya dia melirik Alvin, pemuda itu tampak biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
“Ng—iya, Pak. Lain kali dikasih papan keterangan ya biar Sivia jalannya lebih hati-hati,” balas Sivia mendadak kikuk.
“Ya sudah, Neng. Sekali lagi Bapak minta maaf, tapi sekarang Bapak harus nyelesaiin pekerjaan yang lain.”
Sivia hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan pria itu pergi. Saat hendak melanjutkan langkah ke kelas, dia baru sadar kalau ternyata Alvin masih berdiri di tempatnya, menatap datar ke arah dirinya.
“Gue nggak tahu kalo nyaris kepentok lantai juga bisa bikin orang lain jadi beda,” ucap Alvin sangat datar.
Tahu dengan apa yang dimaksudkan pemuda itu, Sivia melotot tajam. Jangan sampai pemuda ini mengira Sivia terpesona padanya! Kalau sampai dia berpikir demikian... tidak. Alvin tidak boleh punya pikiran seperti itu.
“Gue—“
Ucapan Sivia terhenti saat Alvin meninggalkannya. Gadis itu mendesis, ini kedua kalinya pemuda itu meninggalkannya.
“Alvin sialan! Tungguin gue jir!”
Tapi, mengapa dia selalu ingin menahannya?
Sivia tak mempedulikan pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya. Dia berlari, berusaha menyejajarkan langkah dengan Alvin, sama seperti yang dilakukannya pada saat mereka berada di Mall. Beruntung sekali saat ini sekolah masih sangat sepi. Omong-omong, ini pertama kalinya dia melihat Alvin berkeliaran di pagi hari tanpa The Wanted. Ke mana sahabat-sahabatnya?
“Ngapain ngikutin gue?” tanya Alvin ketus tanpa mengalihkan pandangan.
“Kenapa lo nggak suka gue ikutin?” balas Sivia menyebalkan.
“Simple. Karena lo berisik.”
Mendengar itu, Sivia mengerucutkan bibirnya. Sudah ribuan orang mengatakan bahwa dirinya berisik, tetapi hanya Alvin yang membenci keberisikannya.
***
Jam menunjukkan pukul 05.30 WIB saat Ify duduk di ruang makan. Di sana sudah ada Ozy, Papa dan Mama yang tengah menuangkan susu ke gelas Ozy. Bagi keluarga ini, sarapan bersama adalah hal yang tidak boleh dilewatkan.
“Rio nggak ke sini lagi, Fy?”
Gadis itu nyaris tersedak mendengar pertanyaan mamanya. Ify mendongak, menatap bingung sang Mama mengapa tiba-tiba menanyakan Rio. Memang sih mereka sempat bertemu tetapi itu cuma sebentar, saat Rio mengantarkannya pulang setelah belajar. Ify pun berpikir kalau mamanya akan lupa.
“Mama kenal Kak Rio?” cablak Ozy.
Mamanya mengangguk. “Kemarin nganterin Ify pulang, katanya sih habis belajar bareng. Dia anaknya Reon Haling kan?” sahut mamanya.
“Reon Haling? Kamu temenan sama anaknya, Fy?” timpal papanya.
Ify mengibaskan tangannya. “Cuma kenal biasa. Ify disuruh Bu Maryam bantu ngajarin Rio, makanya kita sering belajar bareng,” jawab Ify sekenanya.
Dia tak berbohong kan?
“Gue dukung elo jadian sama Kak Rio kok,” cetus Ozy membuat Ify reflek menjitaknya.
“Sembarangan lu bocah,” dengus Ify.
“Setahu Papa, perusahaannya Reon Haling sekarang dipegang anaknya yang masih SMA. Jadi, Rio ya? Papa nggak nyangka kamu temenan sama anak konglomerat. Kamu deketin Rio bukan karna dia kaya kan?” ceplos papanya.
“Papa! Ify aja nggak tahu itu. Papa mah nggak baik su’udzon sama anak sendiri, kan Ify udah bilang belum mau pacaran lagi. Yang kemarin bekasnya masih ada,” elak Ify.
Diam-diam dia terkejut juga saat mendengar ucapan papanya mengenai Rio yang mengurus perusahaan.
“Mungkin Kak Rio dikirim buat ngilangin bekasnya,” cetus Ozy—lagi.
Ify melotot dan menjitak pria kecil itu untuk kedua kalinya. Kali ini Ozy mengerucutkan bibirnya, kedua orang tua mereka hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan Ify dan Ozy yang tak pernah akur.  Saat jauh mereka saling mencari, giliran sama-sama di rumah mereka justru seperti kucing dan tikus.
“Bener juga kata Ozy. Kapan-kapan kamu kenalin Rio ke Papa ya, biar Papa yang menilai,” ucap papanya. Ify semakin mendengus.
“Papa nggak akan suka sama Rio. Dia itu anti sosial, nilai-nilainya ancur banget sampai katanya  bisa nggak naik kelas makanya Ify disuruh Bu Maryam ngajarin dia,” balas Ify mengompori. Masalahnya, kalau papanya sudah ikut campur seperti ini pasti ujung-ujungnya dia akan jadi bahan obrolan setiap pagi.
Mama Ify yang telah menyelesaikan sarapannya lantas meletakkan sendok dan garpu,  kemudian tersenyum menatap putrinya yang sudah beranjak dewasa.
“Kamu lihat Papa setiap hari bolak-balik kantor kan, Fy?” tanya mamanya.
Meski bingung, dia tetap mengangguk.
“Kamu juga lihat betapa sibuknnya Papa? Berangkat pagi dan pulang malem setiap hari? Bahkan kadang harus ngelembur seharian?”
Ify mengangguk.
“Nah, itu juga yang dilakukan Rio. Mengurus perusahaan itu nggak mudah, Fy. Banyak waktu yang tersita. Hm, apa Rio susah tanggap waktu diajarin sama kamu?” cerocos mamanya.
Kali ini Ify menggelengkan kepala.
“Itu point-nya! Nilai-nilai Rio hancur kayak yang kamu bilang pasti ada alasan di baliknya. Bukan karna dia bodoh. Nggak ada orang bodoh yang bisa ngurus perusahaan sebesar perusahaan milik Reon Haling loh, Fy! Kamu ngerti kan maksud Mama?” jelas mamanya panjang  lebar.
“Betul kata mamamu. Reon itu keras kepala dan kaku, apapun yang dia mau harus terlaksana. Mungkin Rio nggak mampu menolak waktu Reon nyuruh dia ngurus perusahaan padahal anaknya masih sekolah,” imbuh papanya membuat Ify berpikir keras.
“Satu lagi, kamu nggak pernah ngejelekin orang loh, Fy,” kekeh mamanya.
Tak perlu waktu lama untuk mencerna ucapan kedua orang tuanya karena gadis itu memang cepat tanggap. Ya, Ify mengerti kalau Rio lebih banyak menghabiskan waktunya untuk perusahaan papanya. Detik  itu Ify paham kalau hambatan yang dihadapi Rio sebatas papanya. Hanya satu hambatan, tapi tak pernah bisa dilaluinya.
Rio mengubur mimpinya sebagai musisi. Dia juga merelakan nilai-nilai sekolahnya hancur. Sumpah, Ify tak tahu beban Rio begitu berat.
“Papa sama Mama kenal papanya Kak Rio ya?” tanya Ozy mulai penasaran.
Dan Ify pun sadar kalau sedari tadi kedua orang tuanya berbicara banyak hal seakan sudah mengenal Papa Rio sejak lama. Bahkan Ify tak pernah memberitahukan pada mamanya kalau Rio ini anak dari pemilik perusahaan paling berpengaruh.
“Reon sahabat kami waktu SMA. Dia juga yang bantuin papa deketin mamamu sampai akhirnya kami menikah,” kekeh sang papa.
“Hah? Demi apa?” pekik Ozy dan Ify bersamaan.
Kedua orang tua mereka hanya tertawa kecil.
***
Agni: Nanti latihan?
Cakka: Yoi. Latihan juga?
Agni: He eh. Gue nebeng ya pulangnya
Cakka: Siap. See you ~
Cakka lantas menyimpan ponselnya ke dalam saku dan bersiap menuju Budi Karya. Kali ini dia menggunakan motornya karena sudah bertekat menggunakan mobil saat keadaan darurat saja. Kalau dulu dia menggunakan mobilnya karena terkadang Gabriel atau Shilla suka numpang karena malas menyetir, Rio tak usah ditanya karena dia lebih sering disopiri supaya bisa tidur atau meneruskan pekerjaan.
Seperti yang telah  dia duga, pagi ini dia kembali menemukan kemacetan. Untung motor yang digunakan memudahkannya untuk menyalip. Di lampu merah, tanpa diduga dia bersebelahan dengan mobil Shilla. Gadis itu tak akan tahu tentang keberadaannya—terlebih karena helm fullface yang menutupi wajah Cakka.
Shilla melamun. Di dalam benak Cakka, dia kasihan melihatnya. Andai gadis itu mau memberikannya kesempatan untuk bergelut dengan dunia luar, dunia yang menyimpan impiannya, pasti saat ini Cakka masih ada di sana. Di sampingnya.
Begitu lampu merah itu berubah menjadi hijau, Cakka lantas melajukan motornya kembali. Hanya butuh setengah jam untuk sampai ke Budi Karya. Tahu begini, dia naik motor sejak dulu supaya terhindar dari kemacetan.
“Naik motor, bro?”
Cakka menoleh dan mendapati Debo yang tak jauh darinya.
“Kalau gue naik mobil nggak akan parkir di sini kali,” balas Cakka seraya berseringai.
Debo tertawa kecil lantas menghampiri temannya itu. Ya, Cakka adalah temannya dan sepertinya Cakka juga akan menjadi kapten barunya. Semua anak basket sudah membicarakan masalah kapten basket yang akan menggantikan posisi Patton dan nyaris semuanya mengatakan bahwa Cakka yang akan mendapatkan posisi itu.
“Lo sekarang nggak pernah bareng The Wanted. Gosip lo keluar dari The Wanted itu beneran ya?” tanya Debo.
“Begitulah,” sahut Cakka pendek seakan dia tak mau membicarakannya.
“Hm, sori jadi ngebahas—eh nanti pulang sekolah jangan lupa latihan. Kak Patton udah semangat nelponin gue dari semalem,” ceplos Debo mengalihkan pembicaraan.
Mereka lantas mengobrol sambil berjalan menuju kelas.
“Nggak akan lupa. Gue deg-degan soalnya ini pertandingan pertama gue,” balas Cakka membuat Debo meninju bahu pemuda itu.
“Gaya banget lu! Eh itu Ify sama Sivia. Buset itu anak berdua lengket mulu kayak upil sama idung.”
Cakka yang awalnya tak fokus reflek menatap Ify dan Sivia yang tengah tertawa lebar—entah membicarakan apa. Melihat dua anak itu, selalu saja membuat Cakka iri. Mereka berdua punya kisah yang sama seperti The Wanted. Bersahabat sejak kecil. Tapi mengapa mereka seakan tak pernah menghadapi problem layaknya persahabatan-persahabatan lainnya?
***
“Dua minggu lagi lo ulang tahun,” cetus Alvin.
Shilla mengernyitkan dahinya. “Lo inget ulang tahun gue? Gue aja lupa,” balasnya.
Pemuda itu tersenyum paksa mendengar respon Shilla. Bahkan, gadis ini tak pernah sadar bahwa Alvin lah yang selalu mengingat ulang tahunnya disaat yang lain lupa.
“Lo mau ngadain pesta kan?” tanya Alvin—lagi.
Dan dia satu-satunya yang mengingat semua impian Shilla—termasuk yang dilupakan gadis itu sendiri. Saat mengetahui perasaan Shilla sesungguhnya hanya untuk Gabriel, terjawab sudah mengapa gadis ini tak pernah menyadari kehadirannya.
“Oh iya, baru inget. Tapi gue masih bingung nentuin tema nih. Hmm, bentar gue tanya Gabriel dulu. Dia kan suka punya ide bagus,” ceplos Shilla membuat Alvin mendesah.
“Yel, lo ada ide nggak buat tema ulang tahun gue?” tanya Shilla.
Gabriel yang awalnya sibuk membaca buku fisika mendongakkan kepala. Pemuda itu tampak berpikir keras sampai akhirnya terlintas sebuah ide.
“Dibikin semacam fairy tale gimana?” usul Gabriel.
“Boleh juga tuh! Gimana, Vin?” balas Shilla beralih ke Alvin.
Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya. Mungkin bagi Shilla hanya Gabriel yang paling bersinar hingga dia tak pernah menyadari kehadiran Alvin. Begitu pula dengan Alvin, Shilla lah yang paling bersinar hingga dia tak menyadari ada sosok Gabriel di sana.
“Lo mau ngundang siapa aja?” tanya Gabriel.
Shilla tampak berpikir. “Satu kelas,” sahutnya mantap.
“Nggak salah?” nimbrung Rio yang sedari tadi hanya menyimak.
“Nggak. Sebenernya mau satu sekolah, tapi kayaknya kebanyakan. Belum lagi ada Angel, Brian, semua temen-temen artis pokoknya. Oh iya, ajakin Kak Deva juga ya, Vin! Kalau dia nggak sibuk sih,” cerocos Shilla bersemangat.
“Nggak janji ya. Gue lagi ada sedikit masalah sama Deva,” balas Alvin.
Dia jadi mengingat obrolannya dengan Deva. Sejak saat itu, mereka belum mengobrol lagi dan Alvin belum memiliki keberanian untuk mengajak Deva bicara.
“Ya udah nggak pa-pa kalo nggak disampaiin, lagian Kak Deva pasti sibuk banget,” ujar Shilla memaklumi.
“Shil, lo nggak kangen Cakka?”
Tahu-tahu saja pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Rio. Shilla yang dilempari pertanyaan tersebut secara reflek meneguk ludahnya
“Lo nggak mau ngancurin mood gue pagi ini kan, Yo?” balas Shilla retoris.
Rio menggeleng pelan. “Gue cuma—“
“Kalian tahu event organizer buat pesta ulang tahun yang profesional nggak?” potong Shilla sebelum Rio sempat melanjutkan ucapannya.
“Cakka tahu,” ceplos Rio.
Shilla menggigit bibir bawahnya.
“Lo nggak bisa ngalihin pembicaraan dari gue semudah itu, Shilla. Gue pun nggak ada niat merusak mood lo sama sekali. Tapi—“
“Lo stres gara-gara kantor?”
Kali ini bukan Shilla yang memotong ucapannya, tetapi Alvin. Pemuda itu tidak tahan mendengar Rio yang berusaha membahas Cakka. Alvin hanya tak ingin melihat Shilla merasa terpojokkan.
“Gue tahu lo nggak bodoh buat ngebaca suasana. Untuk saat ini, simpen apapun yang ada di benak lo,” tandas Alvin membuat Rio bungkam.
***
Di kelas Ify dan Sivia. Dua gadis itu tengah sibuk melamun. Bila Ify sedang berpikir keras tentang orang tuanya yang bersahabat dengan papanya Rio, Sivia justru tak berhenti mengembangkan senyumnya sejak pagi tadi. Dia tak mengerti mengapa dirinya jadi seperti ini. Yang terpenting, hanya kejadian di koridor saat dia nyaris terpeleset yang terputar di otaknya.
“Fy, menurut lo Alvin gimana?” tanya Sivia tiba-tiba.
“Monyettt!” dengus Sivia karna sahabatnya itu tak kunjung merespon.
Sivia merebut paksa novel di tangan Ify dan dia pun tahu bahwa sedari tadi Ify tak membaca, tetapi melamun—sama seperti dirinya. Akan tetapi, wajah Ify terlihat serius, bukan senyum-senyum ala orang kasmaran.
“Mikirin apa lo?” tanya Sivia heran.
“Nggak tahu. Dari tadi kepikiran kenapa gue nggak tahu kalau bokap sama nyokap gue sahabatan sama bokapnya Rio,” sahut Ify sekenanya.
“Demi apa?!” tanya Sivia histeris.
Ify sampai harus menutup telinganya. Tepat saat itu, Agni dan Cakka bergabung di bangku mereka. Bahkan baik Ify dan Sivia sama-sama tak sadar kalau bel istirahat sudah berbunyi.
“Ngomongin apa sih? Seru amat,” ceplos Cakka.
“Pasti ngomongin sahabat-sahabat lo, Cak. Mereka kan lagi—“
Agni secara reflek menutup mulutnya. Dia lupa kalau Cakka tak tahu tentang hubungan Ify dan Sivia dengan sahabat-sahabatnya di The Wanted.
“Kalian nyembunyiin sesuatu dari gue?” selidik Cakka.
Tiga gadis itu menggigit bibir bawahnya, terutama Agni yang keceplosan. Mereka saling pandang sementara Cakka masih menunggu jawaban mereka. Ify lah yang pertama bereaksi, gadis itu menghembuskan nafasnya perlahan lalu membalas tatapan Cakka.
“Bukan nyembunyiin. Lebih tepatnya, kami merasa nggak perlu cerita,” jelas Ify.
“Ada apa sih?” tanya Cakka tak paham.
“Hm... Sivia lagi deket sama Gabriel, gue deket sama Rio. Semuanya nggak sengaja. Sama persis kayak elo sama Agni. Bedanya, kalian ketemu baik-baik sementara pertemuan gue dan Sivia dengan Rio dan Gabriel kurang menyenangkan,” jelas Ify lalu mengambil jeda.
“Kita bukannya mau—“
“It’s ok. Gue ngerti kok,” potong Cakka cepat.
“Jadi, kalian lagi ada something sama mereka?” imbuhnya.
Ternyata reaksi Cakka justru di luar dugaan.
“Kalo Ify sama Rio sih bisa jadi, kalo gue sama Gabriel nggak ada something apapun,” elak Sivia membuat Ify melotot.
“Sahabat macem apa sih lu,” dengus Ify.
Cakka tertawa kecil. Dalam hati, dia sudah menduga bahwa mereka ada something dengan sahabat-sahabatnya di The Wanted. Dugaan itu muncul saat kejadian di koridor. Gabriel, cowok yang biasanya diam saja saat Shilla tiba-tiba berbuat ulah tiba-tiba angkat bicara meskipun diabaikan. Sementara Rio, Cakka tahu kala itu Rio tak bisa melepaskan pandangannya ke arah Ify.
“Dua minggu lagi Shilla ulang tahun,” cetus Cakka membuat tiga gadis itu terdiam.
Dia menghela nafas sejenak, “Menurut kalian gue masih layak nggak kadoin dia sesuatu?” lirih Cakka.
Sivia yang pertama membelalakkan matanya. Dia tak habis pikir dengan Cakka, setelah semua yang dilakukan Shilla ternyata Cakka masih punya pikiran untuk memberi kado. Kalau Sivia jadi Cakka, dia tak akan sudi! Tentu saja Sivia tak berani mengungkapkan itu pada Cakka karena tatapan Ify yang menyeramkan. Jadilah Sivia menelan ucapannya yang baru sampai di tenggorokan.
“Selalu layak. Biar gimanapun, dia sahabat lo sejak sebelas tahun yang lalu,” sahut Ify seperti biasa. Tenang dan bijaksana.
“Lo masih inget ulang tahunnya, Cak?” tanya Sivia.
Cakka mengangguk. “Gue inget semua tanggal lahir anak The Wanted. Gue juga hafal ulang tahun kalian,” kekeh Cakka.
“Lo tahu darimana ulang tahun gue?” selidik Sivia.
“Believe or not, dari facebook Chipieea ChayankKamoehCelalue yang nggak sengaka gue temuin pas add facebook Agni,” jawab Cakka polos.
“CAKKAAAA SIALANNNN!!!”
Sejurus kemudian tawa Ify dan Agni memenuhi ruang kelas.  Mereka tak menyangka kalau Cakka menemukan facebook jahanam—sebutan dari Ify—milik Sivia, tepatnya facebook pertama gadis itu. Sialnya lagi, akun itu memang publik. Sivia lupa email dan password-nya sehingga tak bisa menghapus akun tersebut.
“Chipieea eeaaa,” ledek Agni.
“Diem lu curut! Kan gue udah bilang, blokir aja facebooknya! Kampret emang lu Ag! Gue maluuuu,” cerocos Sivia semakin meledakkan tawa mereka.
“Geli gue. Mana Cakka hapal banget,” kekeh Ify.
“Monyet! Nggak usah ikutan ketawa lu! Sebel gue! Kayak kalian nggak pernah alay aja idih,” dengus Sivia.
“EMANG NGGAK PERNAH!” seru Agni, Cakka dan Ify bersamaan.
Gadis itu semakin nelangsa. Dia baru ingat Agni dan Ify itu memang bukan tipe anak yang suka berurusan dengan media sosial.
***
“Sivia.”
Langkah Sivia terhenti, begitu pula dengan Ify yang berjalan di sampingnya. Keduanya berbalik dan mendapati Gabriel bersama Rio yang sedang mengenakan jas laboratorium.
“Apa lo?” galak Sivia membuat Gabriel mengembangkan senyumnya.
“Biasa aja kali,” balas Gabriel.
“Udah biasa. Cepetan bilang, ada apaan? Gue mau ke ruang guru,” sahut Sivia.
“Pulang sekolah ada acara?” tanya Gabriel membuat Sivia mengernyit.
Terjadilah drama dari Sivia, gadis itu sok mengingat jadwal-jadwalnya seakan-akan dia makhluk tersibuk di seluruh dunia. Namun Gabriel tetap menunggu walau dia tahu Sivia hanya sedang berakting.
“Nggak ada.”
Bukan. Bukan Sivia yang menjawab, melainkan sosok Ify yang tak sabar menunggu respon sahabatnya itu.
“Kok jadi elo yang jawab? Kan bukan Rio yang nanya,” protes Sivia membuat Ify melotot karena kebiasaan cablak Sivia.
“Emang lo nggak ada acara apa-apa kan? Jangan sok taken gitu kali, jomblo ya jomblo aja. Lagian selama lo nafas di dunia ini belum pernah ada yang nanya ada acara pulang sekolah apa ngga,” ceplos Ify.
Reflek, Sivia menginjak kaki Ify hingga gadis itu mengaduh. Sementara itu Gabriel dan Rio sibuk menahan tawa mereka.
“Lo jangan jatohin kejombloan gue dong,” dengus Sivia.
Ify hanya mencibirnya.
“Jadi, gimana? Nggak ada kan?” goda Gabriel.
“Jangan pura-pura nggak denger yang dibilang monyet ini lu! Kenapa emang nanya-nanya? Mau ngajak jalan ya?” sahut Sivia semangat.
“Lah dia sendiri yang jatohin kejombloannya,” cibir Ify yang diabaikan oleh Sivia.
“Hm, mau minta temenin aja sekalian gue traktir,” jawab Gabriel.
Mendengar kata ‘traktir’ gadis itu semakin bersemangat. Apalagi Sivia adalah penganut prinsip rejeki nggak boleh ditolak jadi dia juga tak mungkin menolak ajakan Gabriel.
“Wihh! Mau banget gue!” seru Sivia.
“Tuh kan emang dia sendiri yang jatohin kejombloannya,” cibir Ify lagi.
“Rio, ajakin dia nih biar nggak ribut. Jomblo emang suka sirik gitu kalau nggak ada yang ngajakin jalan,” seloroh Sivia membuat Ify melotot.
“Nanti pulang sekolah gue emang ada jadwal belajar bareng Ify kok,” sahut Rio kalem. Sivia ber-oh-ria lalu kembali fokus pada Gabriel, ternyata laki-laki itu tak bisa menahan kegeliannya.
“Pulang sekolah nanti lo tunggu di parkiran aja. Gue sama Ify  harus ke lapangan indoor dulu soalnya,” jelas Sivia.
“Siap. Kalau gitu, kita pergi dulu ya,” pamit Gabriel dan dibalas anggukan oleh Sivia.
“Eh! Eh! Tunggu dulu!” cegah Sivia.
Gabriel dan Rio mengernyitkan keningnya.
“Apa lagi sih, Siv? Lo masih kangen Gabriel? Kita bisa diamuk nih,” dumel Ify.
“Bukan gue. Itu Rio masih kangen elo tahu! Lo nggak mau ngomong sesuatu dulu sama Ify, Yo? Daripada nanti nyesel,” cablak Sivia.
Ify yang awalnya sudah tak sabaran memilih diam. Dia mengamati Rio yang juga tengah mengamatinya. Mereka sama-sama terdiam, tak tahu harus bicara apa.
“Heleh ini bocah malah telepati. Yaudah yuk!” cetus Sivia.
“See you again,” ucap Rio pelan namun masih sempat didengar oleh Ify.
Ify menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah Sivia.
***
Alvin mengamati Shilla yang sedang serius mempersiapkan pestanya. Demi neptunus, Shilla seribu kali lebih cantik dalam pose seperti itu.
Mungkin kau takkan pernah tahu
Betapa mudahnya kau tuk dikagumi
Mungkin kau takkan pernah sadar
Betapa mudahnya kau tuk dicintai
Tiba-tiba saja Alvin bersenandung dan memecah fokus Shilla. Gadis itu mendongak seakan menyelidiki sesuatu.
“Lo nggak lagi nyindir gue kan?” tanya Shilla membuat Alvin meneguk ludahnya.
“Itu lagu beneran gue banget, lirik tadi itu pas gitu ya buat Gabriel,” cetusnya.
Shilla menopang dagu seakan mem-play back lagu tersebut. Sementara Alvin, dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Alvin meringis, bodoh sekali karena dia sempat berpikir bahwa Shilla mulai peka akan perasaannya, tapi ternyata dia malah memikirkan Gabriel. Lucu.
“Gabriel sama Rio kok lama ya balikin jas ke kelas?” tanya Shilla.
Belum sempat Alvin menjawab, dua pemuda itu datang dan langsung mengambil tempat. Gabriel di depan Alvin dan Rio di depan Shilla.
“Panjang umur. Baru aja gue omongin kok kalian lama eh langsung muncul,” cetus Shilla.
“Tadi mampir ke toilet dulu,” sahut Rio.
Shilla hanya mengangguk-angguk lalu menjulurkan iPadnya. Di layar iPad tersebut terdapat contoh-contoh pesta ulang tahun dengan tema fairy tale.
“Ini EO rekomendasi dari Angel. Menurut kalian gimana?” tanya Shilla.
“Hm, gue tau nih. Lo pake itu aja, total kok kalo masalah beginian,” jawab Rio.
“Beneran? Oke deh gue pake EO ini. Lo tahu tempatnya nggak, Yo? Anterin gue dong pulang sekolah nanti,” ceplos Shilla.
“Malem aja gimana? Gabriel sama Alvin free kan malem ini? Ntar sekalian kita hangout mumpung gue juga nggak ke kantor,” usul Rio.
“Gue ngikut aja,” ujar Alvin dan Gabriel bersamaan.
Shilla semakin tersenyum lebar. “Siap! Tapi jemput gue ya?” kekeh Shilla.
“Gue jemput, tuan puteri,” ujar Alvin.
“Habis itu jemput Gabriel sama Rio. Biar nggak kebanyakan mobil,” sambung Shilla.
Alvin menganggukkan kepalanya. Apapun, selama itu untuk Shilla, Alvin akan melakukannya. Obrolan mereka terhenti karena bel masuk sudah menggema. Gabriel menatapi makanannya yang belum sempat ia sentuh, lalu mereka bergegas kembali ke kelas.
Di perjalanan, mereka berpapasan dengan Cakka dan Agni. Tak ada kehangatan saat mereka bertemu. Shilla pun berpura-pura tak tahu keberadaan Cakka.
***
Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak kufikirkan untuk kubenci saja
Dirimu...
Agni dapat memaklumi jika mata Cakka memperlihatkan kerinduan yang mendalam pada sahabat-sahabatnya di The Wanted. Meski pemuda itu sudah mendapatkan yang diinginkannya, bukan berarti memori tentang The Wanted bisa terhapus begitu saja bukan? Maka, saat mereka berpapasan dengan The Wanted, Agni bisa melihat betapa rindunya Cakka pada mereka.
“Are you okay, bro?” tanya Agni membuat Cakka tergagap.
“Gue lagi kepikiran pertandingan aja kok. Hm, ya udah kita pisah di sini ya. Nanti pulang sekolah kita ketemu lagi,” jawab Cakka.
“Kok gue geli ya dengernya?” kekeh Agni.
Cakka  ikut terkekeh, baru menyadari apa yang diucapkannya sedikit ‘aneh’.
“Ya pokoknya nanti kita ketemu lagi. Gue ke kelas dulu,” pamit Cakka.
Agni mengangguk dan memandangi pemuda itu. Barulah ketika Cakka masuk ke kelas dia kembali ke kelasnya sendiri.
“Lo makin deket sama Cakka,” cetus seseorang di depan kelasnya.
“Nggak masuk ke kelas, Yon?” tanya Agni seraya duduk di sebelah Sion, teman sekelasnya.
“Nggak ada guru. Hm, lo udah jadian sama Cakka ya?” sahut Sion.
Mendengar itu, Agni tertawa kecil. “Ngaco banget sih lo. Dapet gosip darimana? Apa malah elo yang ngegosipin gue?” canda Agni.
“Oh, belum ternyata. Gimana rasanya, Ag?”
Sejurus kemudian Agni berhenti tertawa dan memandang bingung ke arah Sion. Pemuda itu balik menatapnya, menunggu gadis di hadapannya ini mengatakan sesuatu.
“Lo ngomongin apa sih? Kok gue nggak paham ya? Apa gue mulai lemot?” tanya Agni beruntut.
Sion menarik ujung kiri bibirnya. “Harus banget gue perjelas ya, Ag?”
Meskipun bingung, Agni tetap mengangguk.
“Gimana rasanya mengagumi dari jauh dan tiba-tiba bisa sedekat ini sama dia?”
Detik itu tubuh Agni menegang. Mata Agni terbelalak, apa yang disimpannya rapat-rapat ternyata diketahui oleh seseorang. Dan itu Sion! Mantan kekasihnya sendiri.
“L—lo ngo-mong apa sih,” elak Agni berusaha menata diri.
Sion kembali menarik ujung bibirnya.
“Gue ngomongin kenyataan,” ujar Sion pendek dan terdengar dingin.
“Gue emang sering bareng sama Cakka tapi itu karna dia temen gue, bahkan udah jadi sahabat gue. Kenyataan nggak selalu tentang apa yang lo lihat,” bantah Agni.
“Emang apa yang gue lihat? Lo ke lapangan indoor setiap hari buat liatin dia main sendirian kayak orang bego?”
Telak. Agni tak mempercayainya. Dia tak percaya kalau Sion tahu rahasia terbesarnya yang bahkan tak Ify atau Sivia tahu.
“Lo mutusin gue bukan karna mau fokus sama basket, tapi karna lo mulai suka sama Cakka. Dan waktu lo berantem sama Shilla di toilet, gue nggak sengaja denger, lo mempertahankan Cakka bukan karena dia datang ke elo tapi karena lo nggak mau kehilangan kesempatan. Ya kan, Ag?” cerocos Sion menahan emosinya yang siap meledak-ledak.
“Gue biarin elo ngamatin dia setiap hari karna gue pikir pada akhirnya lo bakalan bener-bener sayang sama gu—“
“Jangan diterusin,” potong Agni.
“Gue ngerasa bego. Disaat gue cuma bisa berharap, dia datang dan dapetin semuanya tanpa pernah meminta ke elo. Lo kasihin semuanya buat dia. Tahu rasanya gimana? Berantakan.”
Agni memejamkan matanya dalam-dalam. Perlahan, air matanya meluruh. Dadanya mendadak sesak.
“Gue jahat banget ya, Yon? Gue ngambil Cakka dari Shilla, gue juga ninggalin elo demi cowok yang nganggep gue sahabatnya,” lirih Agni.
Gadis itu menundukkan kepalanya.
“Jangan nangis, Ag. Gue nggak punya hak buat ngehapus air mata lo. Tolong, jangan nangis,” ucap Sion pelan.
“Gue ngomong begini karna luka yang lo buat bener-bener dahsyat. Sekeras apapun gue mencoba benci sama elo, hasilnya tetep sama, gue semakin sayang sama lo,” lanjut Sion.
“Maafin gue. Maafin gue. Gue beneran nggak tahu,” lirih Agni.
Sion terkekeh. “Seandainya lo tahu, apa lo bakalan tetep di samping gue? Apa lo bakalan lupain Cakka? Coba lo jawab.”
Namun Agni memilih untuk membungkam. Gadis itu bergelut dengan pikirannya yang mendadak kacau atas pernyataan-pernyataan Sion. Dia pikir, setelah dia memutuskan pemuda itu semuanya selesai dan mereka menjadi teman. Ternyata tak sesederhana itu.
“Itu jawabannya, Ag. Mau lo tahu apa yang gue rasain atau enggak, nggak akan punya pengaruh apa-apa.”
Sejurus kemudian pemuda itu masuk ke kelas dan meninggalkan Agni yang masih tak bisa membendung air matanya.

***
Bersambung...
Hehehe semoga penantian kalian tidak mengecewakan *berdoa* dan info buat kalian yang baca WYHM di wattpad mulai sekarang ceritanya saya private jadi yang nggak follow akun saya harus follow dulu supaya bisa baca. Begitu....
Sampai jumpa di part berikutnya :)

Sabtu, 07 Mei 2016

Happy Anniv GabFC


“Saya bingung kenapa kalian masih bertahan sama saya. Sebenarnya apa lebihnya saya? Apa yang kalian lihat dari saya? Delapan tahun seharusnya kalian udah pada pergi.” –Gabriel Stevent Damanik, 6 Mei 2016.
Dibuka dengan rangkaian kalimat itu, saya persembahkan tulisan ini untuk kita semua. Untuk inspirator saya Gabriel dan untuk keluarga, saudara, sahabat, teman dan partner saya as known as GabrielFC.
Kalimat itu dikirimkan oleh salah seorang sahabat saya di grup CRAG Gaul, salah satu peserta NTR. Baru baca baris pertama, hati saya sudah terenyuh, ternyata anak ini memikirkan sesuatu yang bahkan nggak saya tahu jawabannya.
Sebenarnya apa lebihnya saya?
 Dear Gabriel, saya yakin semua GabFC akan menjawab ‘banyak’ saat kamu tanya seperti itu. Kamu bisa nyanyi, kamu bisa ciptain lagu, kamu bisa main alat musik, kamu pintar, dan banyak lagi talenta kamu yang lain. Tapi itu semua cuma alasan pendukung mengapa saya pribadi masih bertahan sampai sekarang. Sebab, di luar sana banyak orang yang punya talenta seperti kamu.
Mengapa saya bertahan? Karena saya jatuh hati sama kamu. Saya jatuh hati sama sifat-sifat kamu. Dari kamu, saya belajar bahwa setiap kesuksesan harus disertai usaha keras. Dari kamu, saya belajar menyayangi daripada membenci. Dan bersama kamu, saya nggak takut punya banyak mimpi.
Apa yang kalian lihat dari saya?
Saya melihat banyak hal dari kamu, sesuatu yang nggak bisa orang lain—yang suka ledekin saya—lihat. Inget waktu ada yang mintain video untuk anniv ICL? Sebelum yang mintain cerita soal gimana keadaan kamu waktu itu, saya tahu kamu lagi sakit. Mata kamu sayu sekali, tapi kamu tetep senyum, tetep mau dimintain video (padahal yang nggak kenapa-napa pun belum tentu mau). Saya terharu sekaligus bangga sama kamu, saya tahu saya nggak pernah salah jadiin kamu inspirasi saya. Karena kamu selalu melakukan sesuatu dengan tulus. Tetap seperti itu ya bang :)
Delapan tahun seharusnya kalian udah pada pergi.
Saya nggak mau naif. Saya bertahan karena kamu. Mungkin saya bisa ninggalin GabFC, tapi saya nggak pernah bisa ninggalin kamu. Saya bukan GabFC yang setiap saat muncul. Saya juga nggak ikutan pasang avatar untuk anniv ini (sebenernya karna nggak ada foto saya di ava._.v). Saya juga nggak kayak GabFC lain yang bisa nemuin kamu. Saya nggak bisa kayak mereka yang bisa nekat jauh-jauh dari sana sini cuma untuk kamu. Tapi saya selalu support kamu, saya selalu doain yang terbaik untuk kamu, saya selalu mengamini semua harapan-harapan kamu, saya selalu khawatir sama kesehatan kamu, sama seperti yang lainnya. Saya yakin kamu paham.
Gabriel, tetep begini ya. Tetap jadi Gabriel yang selalu dibanggakan, tetap jadi sosok yang rendah hati, yang tulus, yang taat sama orang tua, rajin ibadah, dan lainnya. Sekarang semakin banyak yang sayang sama kamu, semakin banyak pula yang support kamu.
Beberapa tahun lalu, saya pernah menuliskan sesuatu di sosmed saya. Kira-kira seperti ini ‘Suatu saat nanti Gabriel akan berubah, tapi saya yakin dia akan berubah jadi lebih baik dan lebih baik lagi’ dan wusshhh benar! Kamu semakin dewasa, tanpa sadar bikin saya nggak mau kalah. Semoga selalu dalam lindungan-Nya Gab!

Happy anniversary yang ke delapan untuk kita semua...

Sabtu, 30 April 2016

Cerbung (FF) - When You Hold Me part 9

Tittle: When You Hold Me
Author: Fanny Salma

Halooo tim #BangkitkanCRAGSISA saya post part 9 sesuai janji. Semoga semakin penasaran dan ditunggu-tunggu. Terima kasih ya semuanya :)

Hope you like it guys

9


Ada kekosongan yang  tak terdefinisikan. Sejak Shilla mengungkapkan isi hatinya di hadapan pemuda ini. Andai namanya yang disebut saat itu, mungkin kekosongan ini takkan pernah ada. Andai dia yang ditunggu-tunggu gadis tersebut, mungkin kehampaan ini takkan berarti apa-apa. Alvin, pemuda itu mendesah, berusaha membuang pikiran-pikiran tentang Shilla. Sejak pengungkapan isi hati malam itu, Shilla jadi sering curhat tentang Gabriel padanya. Entah, Alvin sendiri tak pernah tahu sudah seberapa dalam perasaan Shilla untuk Gabriel—atau mungkin tak mau tahu.
Terkadang dia harus menulikan telinga. Terkadang, dia harus pura-pura tak pernah memergoki Shilla yang mencuri pandang ke arah Gabriel. Terkadang pula dia harus bersusah payah menata hatinya yang masih berantakan. Sekali lagi, Alvin menyesal telah datang malam itu. Seharusnya dia menuruti ucapan Sivia untuk tidak meninggalkannya.
“Udah tiga hari lo ngalamun. Mikirin apa? Sivia? Dia udah maklum sama kelakuan lo yang semena-mena itu kok,” cetus Deva yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
Alvin mendesah lega, kedatangan Deva membuatnya mengalihkan pikiran dari Shilla. Meski menyebalkan, Deva berhasil mengembalikan moodnya.
“Lo kok udah di rumah?” tanya Alvin tak nyambung.
Deva hanya mengedikkan bahu. “Bolos. Lagi males banget di kantor, apalagi kalo ketemu Keke. Bawelnya ngalahin bacotnya Sivia, masa katanya kerja gue nggak bener? Padahal gue bos—“
“Belum. Selama kedudukan Papa di kantor masih atasan lo, lo belum jadi bos,” potong Alvin dengan nada ketus.
“Ya yaaa whatever. Tetep aja gue anaknya pemilik perusahaan,” sahut Deva seraya mengibaskan tangannya.
Alvin tak menanggapi, dia justru menggapai remote tv lalu sibuk memindahkan channel. Pemuda itu reflek berhenti memencet tombol remote saat salah satu stasiun tv menampilkan wajah Shilla di layar kaca.
“Shilla jadi bintang iklan?” ceplos Deva.
“Gue juga baru tahu,” balas Alvin sekenanya.
Dia tak berbohong. Sejak Shilla sering menceritakan Gabriel—lebih tepatnya memuji—Alvin jadi tidak berminat mendengarkan, mungkin saat itu Shilla sempat menyinggung karir barunya.
“Lo belum move on, bro?” tanya Deva to the point.
Alvin menoleh menghadap Deva. Baru dia sadari, ternyata kakak yang tak pernah dipanggilnya ‘kakak’ ini tampak kelelahan.
“You know me so well,” sahut Alvin pendek.
Deva mendengus lalu sorot matanya berubah seakan menerawang.
“Lo salah, bro. Sejak lo punya The Wanted, gue nggak pernah bisa mengerti elo. Gue kehilangan Alvin yang selalu ada buat gue, nggak peduli dia manggil gue kakak atau cuma nama. Dia sibuk sama sahabat-sahabatnya.”
“Dia nggak punya waktu buat main sama gue lagi. Dia bikin gue seolah-olah nggak pernah ada. Dia nggak pernah tahu kalo gue nangis setiap malem karena kecewa,” imbuh Deva bersama helaan nafas yang berat.
Alvin terkejut mendengarnya. Pemuda itu membeku cukup lama.
“Harusnya gue bilang sama lo sejak sebelas tahun  lalu. Tapi mungkin ini belum terlambat, gue... cemburu sama The Wanted.”
Pemuda itu masih tak merespon sampai akhirnya dia merasakan Deva berdiri dari duduknya dan meninggalkan Alvin. Dia benar-benar tak tahu apa yang dirasakan Deva dan tiba-tiba kakaknya itu mengungkapkan sesuatu yang membuat pikirannya terombang-ambing. Sama seperti saat dia mendengar pengakuan Shilla.
***
Rio menatap Mas Dayat yang sedang membereskan berkas-berkas perusahaan dengan tak sabaran. Sudah jam dua belas malam dan dia ada janji akan menelpon Ify jam setengah tujuh, itu artinya sudah lewat... astaga! Nyaris 6 jam!
“Kamu kenapa, Yo?” tanya Mas Dayat pada bos kecilnya.
Meski Rio adalah atasannya, pemuda itu tak pernah mengijinkan Mas Dayat memanggilnya dengan embel-embel apapun. Hanya nama.
“Saya ada janji mau nelpon Ify jam setengah tujuh, Mas,” jawab Rio meringis.
“Ya ampun. Ini sudah jam dua belas malam, kamu bikin anak orang nunggu lama. Sana kamu ke mobil dulu, nanti saya nyusul,” balas Mas Dayat.
“Nggak pa-pa kalau saya tinggal?” tanya Rio ragu.
“Kamu tenang saja. Sana kamu telepon Ify. Pantas selama rapat tadi kamu terlihat buru-buru, ternyata karena Ify,” kekeh Mas Dayat.
Rio hanya tersenyum menanggapinya lalu ijin untuk ke mobil duluan. Dia memang ditugaskan papanya untuk memimpin rapat perusahaan sementara papanya berada di luar kota. Begitu sampai di mobil, pemuda itu mengeluarkan ponselnya, mengabaikan notifications dan langsung men-calling nomor Ify.
“Jangan tidur  dulu, please,” batin Rio.
“Halo.”
Rio tersenyum lebar mendengar suara Ify di telinganya.
“Hai, Ify,” balas Rio sengaja menyebutkan ‘Ify’ bukan ‘Fy’. Sebab, baginya nama itu sangat indah untuk dilafalkan.
“Jam rumah lo bukan setengah tujuh?”
“Sorry, gue gak ada maksud bikin janji palsu, tapi gue emang baru free. Untung lo belum tidur. Lagi apa?” sahut Rio merasa bersalah.
“Gue udah tidur, kebetulan tadi kebangun gara-gara Ozy minta bantuan ngerjain PR. Ini gue baru balik ke kamar lagi.”
“Mau tidur?”
“Hmm, iya. Besok kan sekolah. Lo juga harus tidur soalnya gue nggak mau besok lo ngantuk atau ketiduran di kelas terus  makin goblok. Kan gue yang repot.”
Mau tak mau Rio tertawa kecil mendengarnya. Dia tak tersinggung sama sekali dengan ucapan Ify karena dia tahu itu hanya sebuah candaan.
“Siap. Have a nice dream...”
“Lo juga.”
“Hm, my one and only.”
Tidak. Rio tidak mengucapkan kalimat terakhir secara langsung, begitu Ify berkata ‘lo juga’ dia sengaja mematikan sambungan teleponnya. Untuk saat ini Rio tidak mau berharap apa-apa dulu, dia hanya takut kebersamaannya dengan Ify akan cepat berlalu. Biarlah semuanya berjalan seperti ini hingga nanti Rio benar-benar yakin akan perasaannya.
Tepat saat itu, Mas Dayat membuka pintu kemudi. Spontan Rio menyimpan ponselnya ke dalam saku.
“Sudah?” tanya  pria tersebut.
Rio menganggukkan kepalanya.
“Kamu tidur aja, Yo. Kalo besok sampai ngantuk atau ketiduran di kelas bakal ada yang repot kayaknya,” kekeh Mas Dayat.
“Mas Dayat nguping?” selidik Rio.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. “Nguping apa? Kan suara kamu nggak kedengeran dari luar.”
Rio mendesah lega meskipun masih penasaran mengapa ucapan Mas Dayat seperti sedang menggodanya. Kenyataannya, Mas Dayat memang tak menguping apa-apa.
***
The Wanted formasi baru menyusuri koridor sekolah. Shilla berjalan di depan bersama Gabriel, sementara Alvin dan Rio menyusul di belakangnya. Sepintas, tak ada yang salah, namun orang-orang tak pernah tahu kalau Alvin ingin sekali bertukar posisi dengan Gabriel saat ini.
“Eh tai, balikin bukunya. Gue belom selesai nyalin tauuu!”
Gabriel memfokuskan pendengaran dan penglihatannya. Benar, memang Sivia. Dia tengah bersama Ify dan Cakka.
“Nggak. Biar sekali-kali lo dihukum, masa tiap pagi kerjaan lo nyalin kerjaan orang,” balas Cakka lalu menjulurkan lidahnya.
Sivia merengut sambil terus berusaha mengambil buku yang disembunyikan Cakka. Sementara Ify, dia sepertinya lebih berminat membaca novelnya. Cakka tertawa lebar saat Sivia terus menjangkau buku tersebut, tingginya yang kalah jauh membuat gadis itu harus berjinjit-jinjit dan posisinya jadi tampak ‘dekat’ dengan Cakka.
“IFYYY! BANTUIN GUE!!” seru Sivia.
Bagaikan disengat saat Sivia menyebutkan nama Ify, Rio ikut terfokus pada pemandangan tersebut. Ify meletakkan novelnya dan menjangkau buku itu dengan mudah karena Cakka lengah.
“Yahhh... Ify...,” dengus Cakka.
“YEAHHHH! PERSAHABATAN KITA EMANG NGGAK BISA DIRAGUKAN LAGI FY! I  LOVE IFY!” sorak Sivia dengan heboh dan bergaya alay.
“Hm, kayaknya bagusan lo simpen aja bukunya deh, Cak,” ucap Ify semena-mena dan mengembalikan buku itu pada Cakka yang kini tertawa puas.
“Lo emang nggak bisa diragukan lagi, Fy,” balas Cakka seraya mengacak-acak puncak kepala Ify.
Tentunya pemandangan itu membuat Rio menahan napas. Dia memang tak tahu sudah sejauh mana Cakka dengan dunia barunya. Hanya saja, Ify tampak biasa saja saat tangan Cakka mendarat di sana seolah-olah itu sudah sering dilakukan.
“IFYYY! MUSUH DALAM SELIMUT!” tuding Sivia.
“Ya dong. Ify sekarang sekubu sama gue,” balas Cakka lalu meletakkan tangannya di bahu Ify. Lagi-lagi pemandangan itu ingin dienyahkan oleh Rio.
“Maaf ya, Siv. Gue bosen sama elo. Kayaknya kita sampai di sini aja,” cetus Ify dengan ekspresi pura-pura sedih.
“Anjir nyet berasa gue lgbt sama lo,” misuh Sivia.
“Loh, jadi kita selama ini apa? Lo php-in gue? Padahal gue udah serius sama lo tau. Fix lo jahat banget. Mending gue sama Cakka yang pasti-pasti aja,” balas Ify lalu mempersempit jarak antara dirinya dan Cakka.
“Akhirnya lo nggak sesat lagi, Fy,” cetus Cakka.
Sivia pura-pura muntah. “Jijik banget gue dengernya. Udah ah mana sini bukunya, bentar lagi masuk dan gue kurang satu nomor nyalinnya.”
Mau tak mau Cakka dan Ify tertawa mendengarnya.
“Kalian lagi. Selalu merusak ketenangan orang. Kampungan,” desis Shilla cukup tajam hingga Ify, Sivia dan Cakka menoleh ke  arah gadis itu.
Dengan gaya angkuhnya, Shilla melipat tangannya di depan dada dan menatap Ify dan Sivia dengan tajam. Sepertinya gadis itu sengaja mengabaikan sosok Cakka di antara mereka.
“Maksud lo apa?” sengak Sivia.
“Shil, stop. Kita ke kelas,” cetus Gabriel namun tak dipedulikan oleh Shilla.
“Lo ngerasa? Bagus. Lo sama temen lo itu mengganggu ketentraman sekolah ini. Dimana-mana selalu aja bikin ribut. Lo pikir ini sekolah punya lo?” balas Shilla tak kalah sengak.
Dalam beberapa detik Shilla dan Sivia saling beradu tatap dengan sinis. Koridor yang semula tak begitu ramai berubah jadi penuh. Semua anak yang awalnya berada di kelas kini sudah ikut menyaksikan. Mereka benar-benar tak menyangka ada yang berani melawan Shilla.
“Siv, kita balik ke kelas,” ucap Ify menengahi.
Sivia menggelengkan kepalanya. “Lo sudi kita dikatain sama makhluk ini? Kalo lo sudi, gue enggak! Dia harus dikasih pelajaran sekali-kali biar nggak sombong,” keukeuh Sivia membuat Ify mendengus.
“Tapi—“
“Mending lo bantuin gue jorogin ini anak ke neraka,” potong Sivia cepat.
Ify tak berkata-kata lagi, dia tahu persis Sivia tak akan bisa dibujuk kalau sedang berapi-api seperti ini. Gadis itu melirik ke arah Gabriel dan Rio. Kening Ify berkerut kala melihat wajah Gabriel yang menggambarkan kepanikan, kepanikan yang berusaha ditahan namun dapat dengan mudah dibaca oleh Ify.
“Harusnya lo tuh sadar diri, lo siapa di sini. Lo cuma cewek kampungan yang sukanya ganggu ketentraman, lo tuh debu alias ngotor-ngotorin sekolah kita,” ujar Shilla menyulut api.
Tahu-tahu saja Cakka sudah berdiri di depan Sivia, berhadapan langsung dengan Shilla yang tampak terkejut. Cakka menarik sudut bibir kirinya.
“Jaga ucapan lo, Shil. Sahabat-sahabat gue seribu kali lebih baik daripada lo. Ngerti?”
Shilla membelalakkan matanya.
“Oh jadi lo keluar dari The Wanted demi debu-debu ini? Selamat, Cakka Nuraga. Kayaknya lo musti ke psikiater,” sinis Shilla.
“Thanks. Kalo menurut lo gue mulai gila, itu nggak berarti apa-apa karena kegilaan gue bikin gue bahagia. Yuk, Siv, Fy,” balas Cakka lalu melewati Shilla begitu saja.
Sivia menyempatkan diri menjulurkan lidahnya sementara Ify menatap miris ke arah Shilla. Sebagai pengamat, Ify tahu maksud dan tujuan Shilla yang tiba-tiba menghina Sivia dan dirinya  di depan umum seperti ini.
***
Shilla mematung. Detik kemudian gadis itu membelah kerumunan dan diikuti oleh Gabriel, Rio dan Alvin. Sampai  di kelas, Shilla tak mau bicara apa-apa dan tiga laki-laki itu mengerti. Dia butuh waktu.
Sementara itu, Sivia masih mencak-mencak dan tak henti menyumpahi Shilla. Berbeda dengan Cakka yang berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, dia hanya membela sahabat-sahabatnya. Dia tak mau kehilangan Ify dan Sivia setelah dia kehilangan The Wanted.
“Dia  cuma lagi ngetes elo, Cak,” ucap Ify.
Cakka menoleh ke arah gadis itu. “Maksudnya?”
“Sasaran utama Shilla itu elo, bukan gue atau Sivia. Dia mau tahu apa elo udah bener-bener ngelepas The Wanted atau belum, makanya gue sama Sivia jadi kambing hitam. Dan begitu tahu-tahu elo belain kita, tujuannya selesai, dia nganggep lo udah melepas The Wanted sepenuhnya.”
Penjelasan Ify membuat Cakka berpikir ulang. Yang dikatakan Ify bisa jadi kebenaran yang sesungguhnya. Cakka lantas menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya.
“Belum terlambat kalau lo mau balik ke sana,” cetus Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya.
Cakka menatap Ify. “Lo ngomong apa sih? Gue udah nyaman sama kalian. Kalian bikin gue punya banyak temen, dikenal banyak orang sebagai Cakka yang seru, dunia yang kalian kasih ke gue tak terduga.”
“Mungkin gue masih kepikiran The Wanted, tapi gue nggak akan balik ke sana.”
Tiba-tiba saja gadis itu menutup novelnya dan meletakkan di atas meja.
“Tapi mereka tetep sahabat lo kan?” tanya Ify serius.
“Selalu. Sebelas tahun gue sama mereka, selamanya mereka jadi sahabat gue. Hanya saja sekarang keadaannya berbeda. Kalaupun suatu saat nanti kita seperti dulu lagi, itu karena gue berbagi elo, Sivia dan Agni sama mereka,” jawab Cakka panjang lebar namun membuat Ify merasa lega.
“By the way, kayaknya lo cocok jadi psikolog. Bahkan gue yang jadi sasaran utama Shilla aja nggak sadar sama sekali,” kekeh Cakka.
Ify hanya tersenyum mendengarnya. Baginya, mengamati orang lain adalah suatu kebiasaan muncul secara alamiah.
“Lo balik ke kelas gih, udah mau bel,” tegur Ify.
“Oke, bos. Gue balik dulu,” balas Cakka kemudian beranjak.
“SIVIA! GUE BALIK DULUUU! JANGAN KANGEEENNNN!”
Sivia yang sedang menyalin tugas hanya mencibir mendengarnya.
***
Seorang gadis dengan kuncir kuda dan berponi pagar yang tak lain adalah Agni tengah berada di toilet untuk membasuh wajahnya. Beberapa saat kemudian salah satu bilik toilet terbuka. Betapa terkejutnya saat muncul sosok Shilla dari dalam bilik tersebut, dia tak tahu kalau Shilla juga  terkejut melihatnya.
“Kebetulan ketemu lo di sini.”
Gerakan Agni terhenti. Gadis itu menutup keran wastafel lalu membalikkan badan supaya dapat bertatapan langsung dengan Shilla.
“Lo ngomong sama gue?” tanya Agni bingung.
Shilla menganggukkan kepalanya. “Lo Agni kan?”
“Iya.”
“Tolong jauhin Cakka,” ucap Shilla.
Detik itu keheningan menyergap seakan sedang memberi waktu pada Agni untuk mencerna ucapan Shilla. Tolong jauhin Cakka. Menyadari gadis itu menggunakan kata ‘tolong’ membuat Agni terkejut—sekali lagi. Sejak kapan dia menyimpan kosakata ‘tolong’?
“Maksud lo?”
Shilla menarik nafas dalam-dalam, lalu mengulang kembali ucapannya.
“Tolong jauhin Cakka. Jauhin Cakka. Jauhin.”
Agni menggelengkan kepalanya dan tersenyum remeh. Dia tak akan menjauhi Cakka setelah apa yang telah mereka lalui.
“Gue minta tolong ke orang yang salah,” balas Agni.
“Ini demi kebaikan lo, Ag. Cakka itu dari keluarga Nuraga, gue tahu lo nggak buta tentang Nuraga. Sementara elo? Anak PNS nggak akan bisa bersanding sama keluarga Nuraga. Jadi, tolong, jauhin Cakka,” ceplos Shilla.
“Gue nggak tahu lo serajin itu buat ngorek informasi tentang gue,” sindir Agni.
Shilla tak menanggapi sama sekali. “Biarkan Cakka kembali ke dunianya yang dulu, sebelum dia mengenal elo.”
Sekali lagi, Agni menggelengkan kepalanya.
“Udah gue bilang, lo  salah minta tolong sama gue. Kita sama-sama keras kepala, Shil. Satu-satunya cara adalah salah satu dari kita mengalah dan lo tahu persis itu bukan gue,” tajam Agni.
Setelah berkata demikian, Agni melangkahkan kakinya untuk keluar dari toilet. Namun langkah itu terhenti saat Shilla membuka bibirnya kembali.
“Andai lo tahu Cakka keluar dari The Wanted gara-gara elo, apa lo masih sanggup bilang begitu? Apa lo masih bisa sombong sementara kenyataannya lo udah ngerusak persahabatan orang?”
Cukup lama Agni membungkam.
“Dia datang ke gue, berarti dia percaya sama gue. Itu udah cukup buat dijadiin alasan untuk mempertahankan.”
Agni melenjutkan langkahnya kembali. Lagi-lagi, Shilla mematung. Tapi dia tidak boleh menyerah sampai Cakka kembali pada The Wanted. Dia pikir,  Agni akan mengiyakan permintaannya tetapi ternyata gadis itu keukeuh mempertahankan Cakka.
Semalaman Shilla memikirkan ini matang-matang. Jika Cakka tak melepaskan sahabat-sahabat barunya, maka dia yang harus membuat sahabat-sahabat baru Cakka melepaskannya. Dengan begitu Cakka akan ‘pulang’ dan The Wanted akan utuh lagi. Sayangnya keputusan Agni sudah bulat.
“Masih ada cewek-cewek tukang rusuh,” gumam Shilla.
***
“Dari mana?” tanya Alvin.
“Toilet. Nasi goreng pesenan gue belum dateng?” balas Shilla.
“Pesenan Rio juga belum,” sahut Alvin.
Shilla melirik Rio yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ah, meskipun pesanan Rio datang pun dia akan lebih sering menatapi ponselnya.
“Gabriel mana?” tanya Shilla yang baru menyadari ketiadaan pemuda itu.
“Ketemu Bu Maryam,” sahut Alvin.
Di lain sisi, Gabriel sedang mencari-cari Sivia dan Ify—tidak seperti yang dikatakan Alvin. Dia dan Rio sepakat untuk menemui kedua gadis itu. Mereka membagi tugas, Gabriel menemui dua gadis itu sementara Rio bertugas mengawasi Shilla dan Alvin supaya mereka tidak curiga.
“Ify!”
Beruntung sekali dia bertemu Ify. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, lalu dibalas dengan anggukan oleh Gabriel. Ify lantas menghampiri pemuda itu.
“Sivia lagi nyalin tugas di kelas,” ujar Ify membuat Gabriel meringis.
Memang wajahnya terbaca sekali ya kalau dia sedang mencari-cari Sivia?
“Hm, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Tapi kayaknya nggak di sini. Kita cari tempat yang sepi supaya nggak ada gosip karna lihat kita ngobrol,” jelas Gabriel.
“Ikut gue.”
Mereka lantas menuju ke taman belakang sekolah. Seperti dugaan Ify, taman ini sepi karena anak-anak lebih memilih untuk berada di kantin. Kemudian mereka duduk di salah satu bangku yang kebetulan berada di bawah pohon besar, kalaupun ada orang yang lewat mereka tak akan tahu ada Ify dan Gabriel di sana.
“Jadi, lo mau ngomongin apa?” tanya Ify to the point.
“Tentang Cakka. Ada yang perlu lo tahu, alasan Cakka keluar dari The Wanted. Waktu itu Shilla tiba-tiba marah sama Cakka lalu nyebut-nyebut Agni. Kayaknya Shilla bener-bener kecewa sampai akhirnya dia nyuruh Cakka milih, The Wanted atau Agni,” jawab Gabriel.
Ify tak berniat memotong cerita Gabriel sama sekali. Jadi, pemuda itu melanjutkan ceritanya.
“Pada akhirnya Cakka milih Agni. Awalnya gue sama nggak ngertinya sama Shilla, kenapa Cakka mendadak keluar dari The Wanted untuk Agni sampai akhirnya gue melihat dengan mata kepala gue sendiri betapa bahagianya dia. Dia ketawa lepas, dia jadi iseng, jadi idola, cewek-cewek jadi suka nongkrongin lapangan basket dan tentunya dia main basket lagi.
“Itu semua nggak pernah gue lihat selama dia di The Wanted. Waktu SD dia memang main basket, tapi sejak Rio mulai diajari papanya tentang perusahaan, dia nggak pernah nyentuh bola basket lagi karena satu-satunya partner basketnya cuma Rio. Terakhir gue lihat dia ketawa lepas pun waktu... entah, gue lupa. Yang jelas, gue jadi paham kenapa dia lebih milih Agni daripada The Wanted.”
Entah perasaannya saja atau apa, Gabriel seakan menunjukkan gelagat dia juga ingin seperti Cakka.
“Kalau ada pilihan untuk memilih dua-duanya, dia pasti bakalan milih itu,” sahut Ify.
Gabriel hanya tersenyum pahit. “Gue sama Rio minta maaf karena tadi pagi kita nggak bisa apa-apa, Kita bukannya—“
“Nope. Gue sangat paham kok. Wajar kalo kalian diem karena pada dasarnya kalian emang harus ada di pihak Shilla. Lo nggak perlu merasa bersalah sama Sivia, meskipun dia nggak suka sama Shilla tapi dia nggak akan musuhin elo,” potong Ify membuat Gabriel terkekeh.
“Kenapa jadi Sivia?” tanya Gabriel.
“Seandainya lo emang mau nyebut nama gue, mata lo nggak perlu ngelirik sana sini karna ngarepin Sivia bakal nemuin kita di sini. Apa gue salah?” balas Ify seakan-akan yang diucapkannya tak berefek apa-apa.
Gabriel meringis. Benar kata Rio, gadis ini mengamati apapun hingga detail sampai lawan bicaranya akan berpikir bahwa Ify memiliki kekuatan magis yang membuatnya bisa membaca pikiran.
“Ya intinya itu. Point penting lainnya, gue nitip Cakka sama lo ya. Atas nama Shilla juga, gue meminta maaf untuk kejadian manapun yang bikin lo dan hm, Sivia sakit hati. Gue harap kalian bisa memaklumi sifat Shilla yang satu itu,” cerocos Gabriel.
Ify menganggukkan kepalanya.
“It’s ok. Tapi gue nggak bisa nyampaiin ini ke Sivia karena lo tahu sendiri, nanti bukannya dimaafin malah Shilla  disamperin,” kekeh Ify.
Gabriel tertawa mendengarnya. Pantas saja Rio jatuh hati pada gadis ini—meski Rio tak pernah mengutarakannya—karena ternyata Ify memang gadis yang baik dan dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Satu lagi kelebihan gadis ini, dia mengetahui banyak hal tanpa harus menanyakannya terlebih dahulu.
“Boleh minta nomor lo?” tanya Gabriel.
Ify mengangguk dan menyebutkan nomornya.
“Sip. Oh ya, lo dapet salam dari Rio,” ceplos Gabriel sembarangan.
“Salam balik,” balas Ify sekenanya.
***
Agni menatap jendela kelasnya dengan pandangan kosong. Setelah bertemu Shilla di toilet, dia tak mau kemana-mana. Biasanya gadis itu akan menghabiskan waktu di lapangan atau di kantin bersama Cakka, Sivia dan Ify. Sayangnya Cakka sedang ada rapat bersama tim  basket untuk kejuaraan, dia tengah mempersiapkan kompetisi pertamanya. Sementara itu Sivia sibuk menyalin tugas dan Ify mengembalikan buku di perpus. Jadilah Agni terdiam di kelasnya, memadangi jendela sedari tadi dan mengabaikan ajakan teman-teman sekelasnya.
“Andai lo tahu Cakka keluar dari The Wanted gara-gara elo, apa lo masih sanggup bilang begitu? Apa lo masih bisa sombong sementara kenyataannya lo udah ngerusak persahabatan orang?”
Shilla tak tahu bahwa Agni mati-matian menahan diri untuk tumbang di hadapan gadis tersebut. Shilla tak tahu bahwa Agni nyaris mengiyakan permintaan Shilla untuk menjauhi Cakka. Kenyataannya, Agni memilih untuk mempertahankan karena sebuah pemikiran yang terlintas di otaknya.
“Dia datang ke gue, berarti dia percaya sama gue. Itu udah cukup buat dijadiin alasan untuk mempertahankan.”
Ya, Cakka datang kepadanya. Pemuda itu memilihnya. Jadi Agni tidak boleh mengecewakan pemuda itu dengan meninggalkannya setelah dia melepas The Wanted untuknya.
Seperti yang dia katakan pada Shilla, Agni memang sama keras kepalanya dengan Shilla. Bahkan ada saat dimana Agni menjadi sangat egois, seperti sekarang ini. Bedanya Agni menutupi kekurangannya dengan sifat-sifat menyenangkan. Dia supel, membuat orang-orang mudah berteman dengannya.
Lamunan Agni buyar saat sebungkus roti dan air mineral tergeletak di bangkunya. Gadis itu mendongak dan mendapati sosok Cakka yang sedang nyengir kemudian duduk di kursi depan bangku Agni.
“Tadi gue ketemu Ify, katanya dia nggak ketemu elo sama sekali jadi gue pikir lo nggak ke kantin. Makanya gue beliin roti di koperasi,” jelas Cakka tanpa diminta.
“Thanks. Tahu aja gue lagi laper, tapi harusnya lo beliin gue mendoan anget,” sahut Agni seraya membuka bungkus roti itu dan melahapnya.
“Buset lo ketularan Sivia kayaknya,” decak Cakka.
“Rapat lo gimana?” tanya Agni membuat wajah Cakka berubah sumringah.
“Gue dapet peran jadi kapten cuy! Nggak nyangka banget sumpah. Gue pikir Kak Patton bakalan terjun, tapi dia bilang dia nggak ikutan main dan gue ditunjuk buat jadi kapten sementara,” jawab Cakka.
Mau tak mau Agni juga ikut senang mendengarnya. Itu artinya perjuangan Cakka selama ini tidak sia-sia. Untuk pertama kalinya, Agni tidak menyesal disebut perusak persahabatan orang. Seandainya dia tak ‘merusak’ pesahabatan itu, mungkin Cakka akan tetap bertahan di posisinya dan memendam dalam-dalam mimpinya sejak dulu.
“Kak Patton bentar lagi harus pensiun, makanya dia lagi ngasih kepercayaan ke adik-adiknya supaya dia bisa ngadepin UN dengan tenang,” ujar Agni.
“Sebenernya gue masih nggak ngerti kenapa kapten basket putri itu elo sementara kapten basket putra justru kakak kelas,” balas Cakka.
Agni terkekeh, dia memang belum pernah menceritakannya pada Cakka karena dia pikir pemuda itu sudah mengetahui.
“Kapten basket putri yang dulu namanya Kak Oik. Setelah kenaikan kelas, dia disuruh fokus belajar sama orang tuanya dan lagipula Kak Oik ngejar beasiswa di Sydney jadi dia pensiun lebih awal. Akhirnya diadain pemilihan kapten basket baru. Kalau Kak Patton, dia udah keterima di Universitas apa gitu—gue lupa, jadi bebannya cuma UN,” jelas Agni panjang lebar.
“Oh... baru paham. Gue pikir lo nggak naik kelas,” cetus Cakka.
Agni melotot mendengarnya. “Gue nggak segoblok itu jir.”
***
“Gimana? Lo udah ngomong ke mereka?”
Itulah pertanyaan yang muncul saat Gabriel kembali ke kelas dan duduk di sebelah Rio. Sepertinya sahabatnya itu sudah tak sabaran mendengar ceritanya.
“Shilla sama Alvin ke mana?” tanya Gabriel tak mengindahkan pertanyaan Rio.
“Ijin. Shilla ada syuting iklan terbaru. Awalnya dia mau minta anter sama elo, tapi lo kelamaan ngilang sementara ponselnya bunyi mulu, akhirnya sama Alvin,” jawab Rio.
“Kok nggak sama lo?” tanya Gabriel—lagi.
“Bacot banget sih, Yel. Buruan cerita,” sahut Rio sebal.
Gabriel terkekeh lalu memulai ceritanya. Pemuda itu menceritakan dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Rio sendiri mendengarkan dengan seksama, dia jadi menyesal kenapa harus menerima tugas sebagai tokoh pasif diantara Shilla dan Alvin sementara Gabriel justru berduaan dengan Ify. Kalau tahu tidak ada Sivia, sudah pasti Rio akan dengan senang hati menerima tugas untuk menemui Ify.
“Oh iya, kata Ify salam balik,” cetus Gabriel membuat mata Rio terbelalak.
“Lo ngomong apaan sama dia?” tanya Rio terdengar panik.
“Cuma bilang dapet salam dari Rio kok,” jawab Gabriel tanpa dosa.
“Fuck. Gue nggak nitip salam buat dia sama sekali,” dengus Rio.
“Masa? Terus tadi yang bilang kangen siapa? Apa tadi gue dengernya isi hati lo yang ngomong begitu ya?” goda Gabriel.
Sial. Rio tak tahu sejak kapan Gabriel jadi suka menggodanya. Dan Rio, sebagai manusia kaku menjadi kikuk jika digoda seperti itu. Sayangnya Gabriel justru semakin gencar melihat reaksi Rio yang diduganya sebagai salah tingkah.
“Ya sori deh kalo tadi gue salah denger, tapi kayaknya tadi lo bilang kangen sama Ify makanya gue salamin.  Harusnya lo berterima kasih sama gue tahu,” ceplos Gabriel.
“Diem lo.”
“Oh iya, gue tadi sempet minta nomornya Ify soalnya kalo gue minta ke elo pasti nggak bakalan dikasih,” cengir Gabriel.
“Tapi lo tenang aja, gue nggak akan kepincut sama Ify tapi gue nggak tanggung jawab ya kalau dia yang kepincut sama gue. Abisan gue sama lo cakepan gue jauh, ibaratnya kalo gue ini Adam Levine, lo babunya,” imbuh Gabriel semakin gencar.
“Suka-suka bacot lo aja deh, Yel,” balas Rio pasrah.
Rio memijat keningnya mendengar cerocosan-cerocosan Gabriel yang semakin tidak jelas. Sepertinya magnet Sivia juga kuat bagi Gabriel. Bahkan, dalam waktu singkat Sivia bisa membuat Gabriel jadi mirip dengannya. Bawel dan pede tinggi.
“Aku dapet permen banyak loh, Yo. Kamu dikit ya? Yah ini pasti gara-gara aku lebih ganteng. Kamu sih pake kostum batman, kulit kamu kan item, kalo pake item malam-malam gini jadi serem tahu,” ucap Gabriel kecil.
“Suka-suka aku dong mau pakai kostum apa. Habis Alvin udah jadi Robin Hood, Cakka jadi Superman, aku kan jadi bingung mau pakai apa,” balas Rio.
Detik itu, Rio terperangah. Gabriel yang sekarang bukan pengaruh dari Sivia sepenuhnya. Gadis itu memang punya peran, tetapi hanya sebatas ‘mengembalikan Gabriel yang dulu’. Gabriel yang sekarang adalah Gabriel yang telah lama hilang.

***
Bersambung...
Maafin saya yang semakin sibuk sama tugas-tugas kuliah. Semua dosen sedang menuntut semua tugas kelar cepet jadi you know lah. Sampai ketemu di part selanjutnyaa! Jangan lupa vote & komentar yaa